Fatayat NU Bedah Film Ibadah & Cinta di Pesantren Denanyar, Angkat Pesan Cinta dan Nilai Perempuan

0

Ringkasan Berita:

  • Fatayat NU turut membahas film Ibadah & Cinta dalam kegiatan bedah film dan novel di Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, dengan mengangkat pesan tentang cinta, keluarga, dan nilai perempuan.
  • Sutradara Jastis Arimba menyebut film Ibadah & Cinta menghadirkan kisah drama keluarga bernuansa religi yang mengangkat tema kehilangan, keikhlasan, serta pertemuan dua budaya berbeda antara Indonesia dan Australia.
  • Pj Ketua Umum PP Fatayat NU Dewi Winarti menilai karakter perempuan dalam film tersebut memberikan pesan tentang pentingnya mempertahankan prinsip, sementara film dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 24 September 2026.

Jombang (beritajatim.com) – Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) turut hadir dalam kegiatan bedah film dan novel Ibadah & Cinta yang digelar di Asrama Al-Bisri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Kabupaten Jombang, Jumat (28/8/2026).

Kegiatan tersebut membahas pesan utama film bergenre drama, romance, dan religi yang mengangkat tema cinta, keluarga, kehilangan, serta nilai perempuan dalam mempertahankan prinsip hidup.

Film produksi Sinemata Buana Kreasindo tersebut dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 24 September 2026. Film ini disutradarai Jastis Arimba dan ditulis Ifan Adriansyah Ismail.

Kehadiran Fatayat NU dalam bedah film ini menjadi bagian dari dukungan terhadap karya yang dinilai membawa pesan tentang perempuan, keluarga, dan nilai-nilai keislaman. Salah satu tokoh Fatayat NU, almarhumah Margaret Aliyatul Maimunah, yang sebelumnya menjabat Ketua Umum PP Fatayat NU, juga menjadi bagian dari pemeran dalam film tersebut.

Sutradara Ibadah & Cinta Jastis Arimba mengatakan film ini tidak hanya berkisah tentang hubungan romantis, tetapi juga menghadirkan persoalan keluarga, kehilangan, serta perjalanan seseorang dalam memahami arti mengikhlaskan.

“Film Ibadah dan Cinta ini adalah film drama keluarga bernilai religi yang bercerita tentang bagaimana kita memaknai arti cinta, kehilangan, dan mengikhlaskan,” ujar Jastis saat ditemui dalam kegiatan bedah film di Pesantren Denanyar, Jombang.

Film ini mengisahkan perjalanan Rico, seorang anak muda asal Australia yang pada awalnya bersikap agnostik dan mempertanyakan nilai-nilai ketuhanan maupun agama. Kehidupannya berubah setelah bertemu dengan Santun, seorang ustazah muda yang cerdas, anggun, memiliki prinsip kuat, serta merupakan putri dari seorang kiai pemilik pesantren.

Hubungan keduanya kemudian menghadirkan berbagai persoalan akibat perbedaan latar belakang dan kultur. Cerita tersebut menggambarkan pertemuan dua dunia berbeda, yakni kehidupan pesantren dengan budaya masyarakat Australia yang modern.

Menurut Jastis, film ini juga menjadi gambaran bagaimana keberagaman budaya dapat dipertemukan melalui nilai cinta.

Foto BeritaJatim.com

“Bagaimana dua keragaman budaya, dua karakter potret kehidupan yang berbeda, bisa disatukan oleh cinta itu sendiri,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa Ibadah & Cinta dikemas sebagai film keluarga yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak penonton merasakan emosi dari perjalanan para tokohnya.

“Ini film keluarga yang sangat menggugah jiwa, sangat emosional. Film keluarga yang sangat layak ditonton bersama keluarga-keluarga Indonesia,” katanya.

Jastis juga menyebut sejumlah adegan dalam film mampu membawa emosi penonton. “Banyak bawa tisu, karena memang film ini sangat menguras emosi,” ujarnya.

Meski mengandung banyak pesan emosional, film ini tetap menghadirkan unsur komedi dan romantis agar cerita terasa lebih ringan dan dekat dengan masyarakat.

Sementara itu, Pj Ketua Umum PP Fatayat NU Dewi Winarti menilai karakter perempuan dalam film Ibadah & Cinta menjadi salah satu pesan penting yang perlu disampaikan kepada masyarakat.

Menurutnya, sosok Santun menggambarkan perempuan dari keluarga pesantren, seorang guru ngaji yang taat, serta memiliki prinsip kuat. Namun, ia juga menghadapi tantangan ketika menjalin hubungan dengan laki-laki yang memiliki latar budaya berbeda.

“Hal yang prinsip itu tetap harus kita perjuangkan jika itu benar, ketika itu berhadapan dan bertentangan dengan sebuah kultur atau budaya,” kata Dewi.

Dewi juga mengaitkan pesan film tentang cinta, kehilangan, dan keikhlasan dengan perjalanan organisasi Fatayat NU. Menurutnya, nilai cinta menjadi hal yang harus terus dijaga dan dirawat. “Cinta itu tumbuh karena dirawat. Fatayat NU ini akan kita rawat dengan cinta,” ujarnya.

Salah satu pemeran film, Berliana Lovell, yang memerankan karakter Nissa, juga membagikan pengalamannya selama terlibat dalam produksi Ibadah & Cinta. Ia mengaku salah satu tantangan terbesarnya adalah ketika harus mengenakan kerudung karena belum terbiasa. “Yang paling challenging adalah pakai kerudung. Karena kan enggak biasa,” ungkapnya.

Berliana mengatakan proses mendalami karakter sekaligus memahami nilai-nilai Islam dalam film menjadi pengalaman baru baginya. “Awalnya benar-benar baru belajar. Tapi ternyata nyaman, terus jadinya lebih betah aja pakai kerudung,” katanya.

Dalam film tersebut, Berliana memerankan karakter Muslimah yang ceria, lucu, dan memiliki sisi centil. Tantangannya adalah menjaga karakter tersebut tetap menarik tanpa keluar dari nilai seorang Muslimah.

“Gimana caranya si centil ini enggak melewati batas ke-Islamannya. Aku kan pakai kerudung tapi harus berperan sedikit centil, tapi gimana caranya centilnya jadi tidak murah,” ujarnya.

Film Ibadah & Cinta akan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 24 September 2026. Melalui kisah cinta lintas budaya dan pesan tentang perempuan, film ini diharapkan dapat menjadi tontonan keluarga yang menghadirkan refleksi mengenai cinta, prinsip, kehilangan, dan keikhlasan. [suf]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.