Grebeg Suro 2026 Resmi Dibuka, Ponorogo Tegaskan Posisi sebagai Kota Budaya Kelas Dunia

0

Ringkasan Berita:

  • Grebeg Suro 2026 resmi dibuka di Alun-alun Ponorogo, menghadirkan puluhan agenda budaya, seni, dan wisata selama sebulan penuh.
  • Plt Bupati Lisdyarita menekankan tradisi ini sebagai momen perenungan diri, syukur, dan harapan baru bagi masyarakat Ponorogo.
  • Pengakuan UNESCO dan Warisan Budaya Dunia Reog Ponorogo menjadi modal memperkuat pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.

Ponorogo (beritajatim.com) – Ponorogo kembali menjadi pusat perhatian dengan pembukaan Grebeg Suro 2026, perayaan budaya terbesar di daerah tersebut. Event yang digelar di Alun-alun Ponorogo pada Sabtu (6/6/2026) malam ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan etalase budaya yang mempertemukan tradisi, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

Keberhasilan Ponorogo dalam meraih status Kota Kreatif UNESCO dan pengakuan Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia menjadi latar kuat acara ini.

Pembukaan Grebeg Suro dilakukan langsung oleh Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita di hadapan ribuan masyarakat dan tamu dari berbagai daerah. Perayaan ini menandai dimulainya bulan Muharam atau 1 Suro, yang selama berabad-abad melekat dengan tradisi masyarakat Bumi Reog.

“Grebeg Suro adalah warisan leluhur nenek moyang kita, tradisi sakral yang hidup dan tumbuh di tanah Ponorogo selama berabad-abad. Perayaan ini menjadi jembatan indah yang menyatukan nilai spiritualitas dan kearifan budaya,” kata Lisdyarita, Minggu (7/6/2026).

Menurutnya, tradisi ini juga menjadi momentum perenungan diri, rasa syukur, dan harapan baru untuk menatap masa depan yang lebih baik.

Tahun ini, Grebeg Suro hadir dengan kemasan lebih besar dan puluhan agenda yang siap menyemarakkan perayaan selama sebulan penuh. Berbagai kegiatan dirancang memadukan unsur tradisi, seni, budaya, olahraga, hingga wisata alam.

Lisdyarita menjelaskan, kegiatan tersebut meliputi Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP), Festival Reog Remaja (FRR), pameran bonsai, pameran pusaka, adventure trail, napak tilas sejarah, hingga larungan risalah doa di Telaga Ngebel.

“Tahun ini menyajikan banyak rangkaian kegiatan yang luar biasa. Semua kami susun dengan penuh hikmat agar tradisi ini tetap lestari, semakin hidup dan tetap menopang di tengah perkembangan zaman,” tegas Bunda Rita, sapaan akrab Lisdyarita.

Keberadaan Grebeg Suro semakin mendapat perhatian setelah Ponorogo memperoleh berbagai pengakuan di tingkat nasional maupun internasional. Lisdyarita menekankan, melalui Grebeg Suro, Ponorogo menegaskan identitasnya sebagai daerah yang kuat dalam budaya sekaligus terbuka terhadap pengembangan sektor pariwisata.

“Ponorogo sudah diakui sebagai Kota Kreatif UNESCO dan Reog Ponorogo tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia, serta event ini masuk dalam Top Ten Karisma Event Nusantara 2026. Melalui Grebeg Suro ini, kita kembali menegaskan komitmen menjaga dan melestarikan kekayaan budaya kepada dunia, sekaligus menjadi kekuatan untuk pariwisata dan perekonomian daerah,” ujarnya.

Lisdyarita juga menekankan makna terdalam Grebeg Suro, yaitu proses perubahan diri menjadi lebih baik, mempererat persaudaraan, dan memperkuat rasa syukur. Nilai-nilai keberanian, kemegahan, dan keindahan yang tercermin dalam kesenian Reog Ponorogo diharapkan menjadi inspirasi membangun daerah yang aman, damai, sejahtera, dan bermartabat.

Apresiasi terhadap pembukaan Grebeg Suro juga datang dari pengunjung luar daerah. Suryo Saputro, seorang kreatif direktur asal Jakarta, mengaku terkesan dengan penyajian acara yang mampu menggabungkan tradisi dengan konsep pertunjukan modern tanpa kehilangan identitas lokal. “Pertama kali ini, saya kira tradisional cuma reog-reog, ternyata amazing, keren,” ujarnya.

Grebeg Suro 2026 menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi kekuatan untuk memperkuat identitas, pariwisata, dan ekonomi kreatif, sekaligus menjaga tradisi agar terus hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya. [end/suf]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.