Ketika Jembatan Garuda Menyambung Sekolah dan Dapur Warga Terisolir Situbondo-Bondowoso

0

Situbondo, (beritajatim.com) – Motor bebek itu berjalan pelan di antara bebatuan sungai. Mesinnya meraung tertahan saat roda belakang beberapa kali tergelincir di jalur tanah dan batu yang sempit. Di atas jok dan boncengan, tumpukan besek ikan menjulang hampir dua meter.

Pengendaranya duduk miring, dua kakinya meraba tanah, demi menjaga keseimbangan. Sesekali ia menahan setang kuat-kuat ketika motor oleng di tepian sungai.

Pemandangan seperti itu bukan hal luar biasa bagi warga Desa Sumberargo, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo.

Sudah puluhan tahun mereka hidup berdampingan dengan medan ekstrem di perlintasan sungai perbatasan Situbondo-Bondowoso.

Dari jalur itulah ribuan besek bambu dikirim setiap hari. Dari jalur itu pula anak-anak pergi sekolah, guru datang mengajar, dan petani menuju ladang mereka.

Dan selama bertahun-tahun, semua aktivitas itu bergantung pada satu jembatan bambu dan kayu rapuh yang sewaktu-waktu bisa putus diterjang banjir.

Pagi itu, suasana berbeda terlihat di perlintasan sungai antara Desa Sumberargo dan Desa Gadingsari.

Anak-anak SDN 1 Sumberargo berdiri di atas jembatan beton baru sambil bercengkrama dengan Dandim 0822 Bondowoso, Letkol Inf Prawito. Mereka tertawa. Sebagian malu-malu ketika diajak berbicara.

Di bawah kaki mereka, sungai mengalir deras seperti biasa. Namun kini warga tak lagi memandangnya dengan rasa cemas yang sama.

Jembatan Garuda dari beton program Presiden Prabowo Subianto akhirnya berdiri di lokasi yang selama sekitar 60 tahun hanya memiliki akses bambu dan kayu swadaya warga.

Rencananya, masyarakat kemudian memberi nama jembatan itu: Jembatan Sumber Gading — gabungan dari Sumberargo dan Gadingsari.

Nama sederhana bagi penghubung dua wilayah yang selama puluhan tahun dipisahkan derasnya sungai.

Usai dari jembatan, anak-anak SDN 1 Sumberargo berjalan menuju sekolah.

Mereka menyusuri tepian sungai, melewati sela bebatuan besar, jalan persawahan sempit, hingga gang kecil di antara rumah warga.

Sekolah dasar itu berada di daerah terpencil Kecamatan Sumbermalang. Jumlah muridnya hanya 24 siswa.

Kelas I berjumlah empat siswa.
Kelas II dan III masing-masing dua siswa.
Kelas IV tujuh siswa.
Kelas V empat siswa.
Kelas VI lima siswa.

Di ruang kelas sederhana yang berada di bangunan atas dan bawah, kegiatan belajar dimulai dengan doa dan hafalan ayat suci Al Quran.

Suara anak-anak terdengar lirih namun penuh semangat. Seorang guru menguji hafalan surat pendek satu per satu.

Pemandangan sederhana itu menyimpan perjuangan panjang yang tak banyak diketahui orang.

Sebab selama bertahun-tahun, proses belajar di sekolah tersebut kerap terganggu ketika musim hujan datang.

Salehudin, guru SDN 1 Sumberargo asal Desa Gadingsari, Bondowoso, merasakan sendiri situasi itu hampir dua dekade. Ia mulai mengajar di sekolah tersebut sejak 2006.

Sebelum jembatan beton dibangun, dirinya harus melewati jembatan bambu yang rawan rusak diterjang banjir.

“Kalau musim hujan, jembatan bambu sering diterjang banjir. Jadi saya kalau mau ke sekolah harus memutar lewat Besuki,” katanya.

Jarak tempuh yang biasanya hanya sekitar 20 hingga 30 menit berubah menjadi sekitar 25 kilometer dengan waktu perjalanan mencapai satu setengah jam.

Dalam kondisi tertentu, anak-anak bahkan berpotensi tidak belajar karena guru sulit mencapai sekolah. “Sekarang kami lebih tenang karena jembatannya sudah kokoh,” ujar Salehudin.

Ia juga mengingat berbagai kecelakaan yang pernah terjadi di jembatan lama. Ada warga jatuh saat membawa barang. Ada yang sampai patah tulang karena bambu penyangga patah.

Bagi warga, jembatan bambu itu selama ini bukan hanya akses penyeberangan. Ia adalah simbol keterbatasan yang diwariskan puluhan tahun.

Namun cerita tentang jembatan ini sesungguhnya bukan hanya tentang pendidikan. Ia juga tentang bagaimana warga desa mempertahankan dapur mereka tetap mengepul.

Di Dusun Krajan, Desa Sumberargo, suara bambu dibelah terdengar hampir dari setiap rumah.

Mayoritas warga bekerja sebagai perajin besek ikan. Besek bambu itu digunakan sebagai wadah hasil tangkapan ikan dan dipasarkan ke Bondowoso melalui para pengepul.

Sekretaris Desa Sumberargo, Sugianto, mengatakan lebih dari 300 kepala keluarga bekerja sebagai perajin besek.

Satu keluarga mampu menghasilkan 200 hingga 500 besek dalam sehari. Sementara total produksi warga di dusun tersebut mencapai 30 ribu hingga 40 ribu besek per hari. Jumlah besar untuk desa terpencil di kawasan pegunungan.

Namun besarnya produksi itu selama ini tidak ditopang akses yang layak. Besek harus diangkut menggunakan sepeda motor melewati jalur berbatu di tepian sungai.

Muatan ditumpuk setinggi mungkin demi menghemat biaya angkut. Saat hujan turun dan banjir datang, distribusi otomatis terganggu.

Warga terpaksa memutar lewat Besuki dengan tambahan waktu tempuh lebih dari satu jam. Biaya transportasi naik. Tenaga bertambah. Penghasilan ikut tergerus. Padahal harga besek sangat bergantung pada permintaan pasar dan hasil tangkapan ikan.

Saat harga turun, satu ikat besek hanya dihargai sekitar Rp10 ribu hingga Rp12 ribu. Ketika permintaan meningkat, harganya bisa mencapai Rp20 ribu. “Pengepulnya dari Bondowoso semua,” kata Sugianto.

Karena itu, keberadaan jembatan baru menjadi harapan penting bagi perputaran ekonomi warga.

Tak hanya untuk Desa Sumberargo, tetapi juga lima desa terpencil lain di Kecamatan Sumbermalang seperti Taman Kursi, Kalirejo, Tlogosari, Tamansari, dan Baderan.

Kepala Desa Gadingsari, Buhairi, mengatakan jembatan tersebut juga sangat dibutuhkan warga Bondowoso.

Banyak warga Gadingsari memiliki sawah dan ladang di wilayah Sumberargo. Namun ketika banjir datang, akses rusak dan aktivitas pertanian berhenti total. “Kalau banjir, warga tidak bisa berladang,” ujarnya.

Jika harus memutar melalui Besuki, perjalanan bisa memakan waktu hingga dua jam. Kini, warga cukup menempuh sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor. Perubahan yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang.

Namun bagi masyarakat desa, selisih waktu itu menentukan apakah seseorang masih bisa bekerja hari itu atau kehilangan penghasilan.

Dandim 0822 Bondowoso Letkol Inf Prawito mengatakan pembangunan jembatan saat ini telah mencapai sekitar 99 persen dan tinggal tahap penyelesaian akhir.

Menurutnya, pembangunan dilakukan sebagai bentuk kehadiran negara di wilayah yang selama ini sulit dijangkau. “Kurang lebih 60 tahun masyarakat menggunakan jembatan swadaya dari bambu dan kayu,” katanya.

Kini, sungai yang selama puluhan tahun memutus sekolah anak-anak, menghambat hasil kerajinan warga, dan memisahkan aktivitas ekonomi dua kabupaten itu tak lagi sama.

Di antara Sumberargo dan Gadingsari, sebuah jembatan akhirnya menyambung lebih dari sekadar jalan. Ia menyambung kehidupan. (awi/aje)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.