Khofifah Kunjungi Kota Probolinggo, Inflasi yang Sempat 4,5 Persen Kini Tinggal 0,03 Persen
Probolinggo (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Probolinggo terus memperkuat langkah pengendalian inflasi melalui berbagai program stabilisasi harga kebutuhan pokok.
Upaya tersebut membuahkan hasil dengan menurunnya laju inflasi daerah hingga menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia serta mengantarkan Kota Probolinggo meraih penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dalam bidang pengendalian inflasi.
Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri kegiatan bazar pasar murah di Pujasera Bundaran Glaser, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Senin (8/6/2026).
Khofifah berharap pelaksanaan pasar murah dan intervensi harga yang dilakukan pemerintah dapat semakin memperluas jangkauan masyarakat penerima manfaat sekaligus menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
“Harapannya kita bisa meluaskan penjangkauan, serta bisa melakukan stabilisasi harga. Ini juga untuk Wali Kota Probolinggo, selamat karena kemarin mendapatkan penghargaan dari Menteri Dalam Negeri dalam hal pengendalian inflasi,” ujar Khofifah.
Sementara itu, Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin menjelaskan bahwa Kota Probolinggo sempat menghadapi tekanan inflasi yang cukup tinggi pada akhir 2025. Pada Desember 2025, tingkat inflasi Kota Probolinggo berada di kisaran 4,1 hingga 4,5 persen dan sempat menempati peringkat kedua hingga keempat tertinggi di Jawa Timur.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemkot Probolinggo melakukan berbagai langkah pengendalian, mulai dari rapat koordinasi rutin, pemantauan harga, hingga pelaksanaan operasi pasar yang frekuensinya ditingkatkan dari sekali menjadi dua kali dalam sepekan.
“Di akhir Januari sudah mulai turun ke angka 3,5 persen, kemudian menjadi 3,1 persen. Bahkan saat ini inflasi kita berada di angka 0,3 persen. Ini menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia dan akhirnya kita mendapatkan penghargaan dari Kemendagri sebagai kota dengan pengendalian inflasi terbaik,” kata Aminuddin.
Menurutnya, tantangan pengendalian inflasi masih perlu diwaspadai, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global dan menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat yang disebut telah menyentuh kisaran Rp18 ribu per dolar AS.
Untuk mengantisipasi dampaknya terhadap harga barang dan jasa, Pemkot Probolinggo menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo guna memantau pergerakan komoditas yang berpotensi memicu inflasi.
Aminuddin mencontohkan, salah satu faktor yang sebelumnya memberikan tekanan cukup besar terhadap inflasi daerah adalah kenaikan harga emas perhiasan. Komoditas tersebut memiliki pengaruh signifikan karena tingginya aktivitas perdagangan emas di Kota Probolinggo. Namun saat ini harga emas justru mengalami penurunan sehingga turut menahan laju inflasi.
Di sisi lain, program pasar murah yang digelar pemerintah daerah mendapat respons positif dari masyarakat. Witanti (42), warga Kelurahan Kademangan, mengaku rela berdesakan demi mendapatkan bahan kebutuhan pokok dengan harga lebih murah dibandingkan harga pasar.
“Tidak apa-apa desak-desakan sedikit, asalkan bisa belanja kebutuhan pokok dengan harga yang sangat terjangkau. Kalau dibandingkan di pasaran, selisihnya hampir Rp2.000 sampai Rp4.000,” ujarnya.
Ia mencontohkan harga beras medium yang di pasar berkisar Rp74.000 hingga Rp76.000 per kemasan, di bazar dijual Rp70.000. Sementara telur ayam ras yang di pasaran mencapai Rp26.000 per kilogram, di lokasi pasar murah hanya Rp22.000 per kilogram.
Berdasarkan data BPS Kota Probolinggo, pada Mei 2026 Kota Probolinggo mengalami inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,03 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,71. Sementara inflasi tahunan (year on year/y-on-y) tercatat 3,11 persen dibandingkan Mei 2025.
Komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi bulanan antara lain cabai merah, cabai rawit, pelumas atau oli mesin, bawang merah, Sigaret Kretek Mesin (SKM), jasa binatu, perbaikan ringan kendaraan, telepon seluler, minyak goreng, kasur, makanan ringan, ikan tongkol, terong, ikan layang, bahan bakar rumah tangga, dan makanan hewan peliharaan.
Sebaliknya, sejumlah komoditas mengalami penurunan harga dan menahan laju inflasi, di antaranya emas perhiasan, telur ayam ras, daging ayam ras, bawang putih, ikan kembung, gula pasir, serta angkutan antarkota.
Penurunan inflasi yang terjadi menunjukkan efektivitas berbagai intervensi pemerintah daerah dalam menjaga keterjangkauan harga dan daya beli masyarakat. Namun demikian, Pemkot Probolinggo tetap akan memperkuat pemantauan harga komoditas strategis guna mengantisipasi potensi gejolak inflasi pada bulan-bulan mendatang. (rap/ted)
Link informasi : Sumber