Mahasiswa UB Sulap UMKM Desa Tlogorejo Makin Melek Digital

0

Malang (beritajatim.com) – Pelaku usaha mikro di pelosok desa sering kali terkendala jangkauan pasar yang terbatas akibat belum terjamah teknologi digital. Kondisi ini menggugah kepedulian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 32 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) saat mengabdi di Desa Tlogorejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.

Selama lebih dari satu bulan, terhitung sejak 13 Juli hingga 16 Agustus 2026, para mahasiswa terjun langsung mendampingi warga. Fokus utama gerakan ini menyasar tiga pilar strategis, yaitu digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemetaan potensi ekonomi dan wisata, serta manajemen pengelolaan sampah rumah tangga.

“Kami berfokus pada penguatan potensi lokal melalui tiga pilar utama, yakni digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemetaan potensi ekonomi dan wisata, serta manajemen pengelolaan sampah rumah tangga,” ujar Ketua KKN Kelompok 32 FPIK UB, Wahdin Nashru Al-Walidi, Jumat (14/8/2026).

Pada pilar pertama, mahasiswa memberikan pendampingan intensif terkait adopsi teknologi digital kepada masyarakat dan pelaku usaha setempat. Langkah konkret yang diambil meliputi pendaftaran titik lokasi usaha pada platform navigasi Google Maps, edukasi promosi digital, hingga integrasi sistem pembayaran non-tunai menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Pendampingan ini diharapkan mampu mempermudah akses transaksi pelanggan sekaligus memperluas jangkauan pemasaran produk lokal di era ekonomi digital.

Guna memperkuat arah pembangunan wilayah, Kelompok 32 FPIK UB juga merumuskan dokumen Peta Potensi Ekonomi dan Pariwisata Desa Tlogorejo Tahun 2026. Peta tematik tersebut memuat data persebaran komoditas unggulan, aset wilayah, serta fasilitas umum yang strategis.

Dokumen ini diproyeksikan menjadi instrumen rujukan bagi pemerintah desa maupun pihak luar dalam merancang strategi pengembangan kawasan dan mempromosikan potensi lokal secara terstruktur.

Tidak hanya berfokus pada sektor ekonomi, kepedulian terhadap kelestarian lingkungan diwujudkan melalui program edukasi pemilahan sampah plastik. Bekerja sama dengan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) setempat, mahasiswa mengajak warga memisahkan material plastik dari limbah organik serta anorganik lainnya sejak dari lingkup rumah tangga.

Bagi para mahasiswa, masa pengabdian ini memberikan pengalaman empiris yang sangat bermakna. Esensi utama dari KKN dinilai melampaui sekadar penyelesaian target program kerja administratif di atas kertas.

“Bagi kami, KKN ini bukan cuma tentang program kerja yang harus tuntas, melainkan bagaimana kami bisa berbaur langsung dengan warga, belajar dari kearifan lokal, serta merasakan ritme kehidupan desa,” ungkap Wahdin.

Wahdin menambahkan, dinamika interaksi sosial selama satu bulan penuh di Desa Tlogorejo mengajarkan nilai komunikasi, empati, dan gotong royong yang nyata. Proses adaptasi di lapangan telah menjadi sarana pembelajaran karakter yang berharga bagi seluruh anggota kelompok.

“Ada rasa lelah, kebingungan merumuskan solusi, hingga momen kebersamaan yang hangat. Semua itu menjadikan perjalanan KKN ini sangat berkesan. Tlogorejo bukan hanya lokasi penugasan akademik, tetapi ruang di mana kami bertumbuh, belajar, dan menitipkan jejak cerita pengabdian yang akan kami ingat seumur hidup,” imbuhnya.

Sinergi ini mendapat apresiasi positif dari Ketua TP-PKK Desa Tlogorejo, Lis Eko Wahyudi. Pihaknya menegaskan bahwa pemilahan limbah di tingkat keluarga merupakan kunci penting dalam menciptakan ekosistem desa yang bersih dan sehat.

Lis menilai keterlibatan aktif para kader PKK dan masyarakat secara langsung menjadi fondasi utama agar inisiatif pemilahan sampah ini memiliki dampak berkelanjutan, bukan sekadar agenda musiman.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti sebagai program seremonial, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan bersama warga. Sampah yang dipilah dengan baik sejak dari rumah akan jauh lebih mudah dikelola dan memiliki nilai guna untuk didaur ulang kembali,” ujar Lis Eko Wahyudi menutup. [dan/ian]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.