Memperkuat Fondasi Ekonomi Jatim 2026: Investasi Manufaktur, Daya Saing Industri, dan Energi Jadi Sorotan

0

Ringkasan Berita

* Jurnalis Ekonomi-Bisnis Surabaya (JEBS) menggelar FGD Outlook Ekonomi Jatim 2026 untuk membahas strategi menjaga kualitas pertumbuhan ekonomi melalui penguatan investasi manufaktur, pengentasan pengangguran terdidik, serta hilirisasi riset kampus.

* Forum ini menekankan pentingnya sinergi antara dunia usaha, akademisi, dan pemerintah dalam mengatasi tantangan industri—seperti maraknya rokok ilegal dan kesiapan pasokan energi—guna mendorong pemerataan kesejahteraan dan daya saing Jawa Timur.

——————————————————————————

Surabaya (beritajatim.com) — Perekonomian Jawa Timur menunjukkkan tren pertumbuhan positif hingga pertengahan 2026. Namun, capaian angka tersebut masih menyisakan tantangan besar, terutama pada penyerapan tenaga kerja terdidik, hilirisasi riset, hingga perlindungan industri lokal.

Dinamika ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Refleksi Jawa Timur 81 Tahun dan Outlook Ekonomi Jatim 2026” yang digelar Jurnalis Ekonomi-Bisnis Surabaya (JEBS) di Hotel Kampi Surabaya, Selasa (27/10/2026). Forum ini menghadirkan perwakilan Kadin Jatim, akademisi, pelaku usaha, hingga BUMN untuk memetakan arah kebijakan ekonomi daerah.

Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyoroti realita bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim yang mencapai 5,72 persen (yoy) di triwulan II 2026 harus diimbangi dengan perbaikan kualitas ketenagakerjaan dan kemiskinan.

“Potensi ekonomi kita tinggi, namun tantangannya adalah menciptakan lapangan kerja berkualitas. Lulusan perguruan tinggi dan vokasi harus sesuai dengan kebutuhan industri. Kadin juga terus menjembatani agar riset kampus dapat dihilirisasi menjadi produk bernilai ekonomi bagi dunia usaha,” tegas Adik Dwi Putranto.

Dari sudut pandang akademisi, Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga, Prof. Rudi Purnowono, menekankan pentingnya penguatan industri manufaktur melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) agar mampu memberikan dampak berantai (multiplier effect) bagi UMKM lokal.

“Kalau industri besar tumbuh, diharapkan bisa mengerek industri menengah. Ketika industri menengah naik, mereka juga bisa mengangkat industri kecil. Keterkaitan inilah yang akan meningkatkan kinerja industri secara keseluruhan,” jelas Prof. Rudi Purnowono.

Sementara itu, industri hasil tembakau (IHT) yang menjadi salah satu penopang utama ekonomi Jatim mengaku berada dalam tekanan akibat pelemahan daya beli dan gempuran rokok ilegal. Ketua Gapero Surabaya, Sulami Bahar, berharap ada evaluasi kebijakan tarif untuk menjaga kelangsungan industri legal.

“Rokok ilegal terus meningkat akibat pergeseran harga. Kami berharap pemerintah memperhitungkan kondisi riil industri dan daya beli masyarakat dalam menetapkan kebijakan cukai mendatang, termasuk tidak menaikkan tarif cukai,” ujar Sulami Bahar.

Kelancaran roda ekonomi tersebut tak lepas dari jaminan pasokan energi yang andal. Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, memastikan kesiapan infrastruktur distribusi energi di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur untuk menyokong sektor manufaktur, logistik, hingga pariwisata.

“Dukungan energi tidak hanya hadir melalui BBM di SPBU, tetapi juga menjangkau berbagai simpul transportasi dan aktivitas ekonomi. Kami terus menjaga keandalan sarana, fasilitas, dan distribusi agar kebutuhan energi terpenuhi sesuai peruntukannya,” kata Ahad Rahedi.

Melalui forum ini, seluruh pemangku kepentingan menyepakati bahwa kunci keberlanjutan ekonomi Jawa Timur terletak pada kolaborasi lintas sektor—mulai dari penyediaan energi yang kompetitif, sinergi riset dan industri, hingga kebijakan yang pro-pengembangan usaha lokal.[rea]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.