NU Perlu Center for Global Geopolitics and Strategic Studies
Nahdlatul Ulama memiliki modal sosial, modal moral, kekuatan lunak yang besar, dan kepercayaan. Kalangan Nahdliyyin memiliki kemampun berdialog kebangsaan tanpa kehilangan identitas keagamaan. Itu disebut oleh Agus Trihartono, uru besar diplomasi Universitas Jember, Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, dan | anggota Dewan Pakar Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Cabang NU Banyuwangi, sebagai modal soft power.
“Indonesia juga memiliki pengalaman penting bagi dunia di mana Islam, demokrasi, kebangsaan, dan pluralisme dapat hidup dalam satu ruang politik. NU merupakan salah satu bagian penting dari pengalaman Indonesia tersebut,” kata Agus.
Menyambut Muktamar NU 2026 di Jombang, Agus Trihartono memandang para pemimpin NU perlu kemampuan untuk memahami aktor-aktor geopolitik dan kepentingan yang bekerja, serta arah perubahan yang diakibatkannya.
Berikut bagian kedua wawancara Beritajatim.com dengan Agus Trihartono, Sabtu (29/8/2026).
Beritajatim:
Mengapa perspektif geopolitik penting bagi kepemimpinan NU hasil Muktamar 2026?
Agus Trihartono:
Karena memimpin NU hari ini berarti memimpin organisasi yang berada di titik pertemuan agama, masyarakat, negara, dan dunia.
Pimpinan NU tidak harus menjadi ahli geopolitik, tentu saja. Tetapi para pemimpin memerlukan geopolitical literacy, yakni memahami siapa yang sedang memengaruhi dunia, kepentingan apa yang bekerja, ke mana arah perubahan, dan apa akibatnya bagi Indonesia serta umat.
NU memiliki social capital, moral capital, dan soft power yang besar. Tetapi modal itu akan lebih berarti jika disertai kemampuan membaca lingkungan strategis.
Beritajatim:
Apa sebenarnya soft power NU?
Agus Trihartono:
Kekuatan NU bukan seperti kekuatan hard power sebuah negara. NU memiliki sesuatu yang lain yakni kepercayaan.
Ada pesantren, ulama, intelektual, jaringan masyarakat, pengalaman hidup dalam masyarakat plural, serta tradisi Islam yang mampu berdialog dengan kebangsaan tanpa kehilangan identitas keagamaannya. Itu adalah modal soft power.
Indonesia juga memiliki pengalaman penting bagi dunia dimana Islam, demokrasi, kebangsaan, dan pluralisme dapat hidup dalam satu ruang politik. NU merupakan salah satu bagian penting dari pengalaman Indonesia tersebut.
Beritajatim:
Apakah NU bisa menjadi aktor geopolitik?
Agus Trihartono:
Saya lebih nyaman menyebut NU sebagai aktor non-negara dalam politik global. NU tidak bertindak layaknya negara. Itu bukan kekuatannya. Kekuatan NU justru terletak pada kemampuan membangun dialog, kepercayaan, jaringan, dan narasi.
Di situlah track-two diplomacy, people-to-people diplomacy, religious diplomacy, dan faith-based diplomacy menjadi penting.
NU dapat berbicara dengan masyarakat sipil berbagai negara, komunitas Muslim dunia, maupun pemimpin agama lain. NU sudah dan dapat terus membawa perspektif Islam dalam percakapan mengenai perdamaian, demokrasi, perubahan iklim, kemiskinan, AI, migrasi, dan kemanusiaan.
Negara memiliki diplomasi resmi. Namun NU mempunyai ruang yang berbeda yang membuat international audience mau mendengarkan.
Beritajatim:
Apa keunggulan NU dalam konteks dunia Islam?
Agus Trihartono:
Justru terletak pada pengalaman NU menjadi bagian dari Indonesia. Dunia Islam tidak pernah tunggal. Ia terdiri dari banyak sejarah, budaya, dan pengalaman politik.
NU tumbuh dari Nusantara, sebuah ruang di mana Islam berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan substansi keagamaannya. NU tidak perlu datang ke dunia dengan mengatakan, “Inilah model NU.”
Yang lebih menarik juastru: “Inilah pengalaman kami dalam hidup bersama sebagai sebuah bangsa.” Pengalaman yang jujur sering kali lebih kuat daripada model yang dipaksakan.
Beritajatim:
Apa agenda geopolitik NU yang paling penting?
Agus Trihartono:
Saya melihat beberapa isu utama: perdamaian dan konflik di dunia Islam; Indo-Pasifik dan persaingan kekuatan besar; geoekonomi, terutama pangan, energi, investasi dan pekerjaan; teknologi dan AI; serta perubahan iklim yang kini menyentuh keamanan manusia.
NU tidak harus menjawab semuanya sekaligus. Tetapi NU dapat mulai bertanya lebih awal.
Beritajatim:
Apakah NU membutuhkan lembaga khusus untuk membaca geopolitik?
Agus Trihartono:
Sebenarnya NU sudah memiliki kajian-kajiannya. Hanya perlu memberi aksentuasi yang lebih kuat.
Saya membayangkan PBNU memiliki semacam NU Center for Global Geopolitics and Strategic Studies. Fungsinya membantu NU membaca perubahan dunia.
Misalnya melalui global risk assessment mengenai Timur Tengah, Amerika Serikat–China, pangan, energi, AI, maupun perubahan iklim. Dengan begitu, NU tidak berpikir setelah peristiwa terjadi. NU sudah berpikir sebelum peristiwa terjadi.
Beritajatim:
Bagaimana NU menjaga agar geopolitiknya tidak berubah menjadi politik praktis?
Agus Trihartono:
Dengan membedakan kepentingan politik sesaat dari kepentingan kemanusiaan dan peradaban. Dalam konflik internasional, NU tidak harus otomatis mengikuti siapa yang didukung pemerintah Indonesia atau kekuatan tertentu.
NU dapat bertanya lebih mendasar: Di mana kemanusiaan? Di mana keadilan? Di mana perdamaian?
Di situlah diplomasi keagamaan memiliki kekuatannya tersendiri. Organisasi keagamaan, seperti NU, dapat membawa moral imagination, yakni kemampuan membayangkan dunia yang lebih manusiawi.
Beritajatim:
Apakah NU harus memilih antara Amerika Serikat dan China?
Agus Trihartono:
Tentu Tidak. NU tidak perlu menjadi “pro-Amerika” atau “pro-China”. Dunia terlalu kompleks untuk dibaca hanya dengan dua label.
Yang diperlukan adalah memahami persaingan tersebut dan konsekuensinya bagi Indonesia dan bagi umat.
Karena itu, NU seyogyanya mendukung strategic autonomy Indonesia dalam kemampuan menentukan pilihan sendiri tanpa menjadi satelit kekuatan mana pun.
Jadi pertanyaannya bukan: “Kita berpihak kepada siapa?”
Pertanyaan yang lebih penting: “Bagaimana Indonesia tetap memiliki ruang untuk menentukan masa depannya sendiri?”
Beritajatim:
Apa harapan Prof. kepada kepemimpinan NU hasil Muktamar 2026?
Agus Trihartono:
Mungkin, kalau boleh NU selain membaca apa yang terjadi di dalam negeri, perlu juga terus membaca dunia yang sedang membentuk masa depan Indonesia.
NU dapat menjadi kekuatan moral dan intelektual yang mampu membaca dunia, berbicara kepada dunia, dan ikut memengaruhi dunia melalui gagasan, jaringan, dan keteladanan.
Pesantren harus tetap menjadi akar. Tetapi cakrawala santri harus global. Dunia hari ini sedang mencari arah. Dunia Islam pun sedang menghadapi pertanyaan besar tentang masa depannya. Indonesia juga sedang mencari tempatnya dalam tatanan dunia yang baru.
NU mempunyai kesempatan untuk ikut menjawab ketiganya, dengan menjadi rumah besar Islam Nusantara yang berakar di Indonesia, tetapi memiliki cakrawala global. Sehingga, mungkin NU tidak cukup hanya bertanya: “Apa yang sedang terjadi di dunia?”
Ada pertanyaan yang lebih jauh: “Dunia seperti apa yang ingin NU ikut lahirkan?”
Di situlah geopolitik bagi NU tidak berhenti menjadi sekadar soal membaca kekuatan. Tetapi, NU ikut menentukan arahnya. Wallahu a’lam bishawab. [wir/ian]
Link informasi : Sumber