Obituari: Dari Sepeda Tua hingga Restoran Ayam Goreng Legendaris di Jogja, Menelisik Perjalanan Hidup Hj Suharti yang Kini Berpulang
YOGYAKARTA (beritajatim.com) – Nama Hj. Suharti telah melekat kuat dalam ingatan masyarakat ketika berbicara tentang ayam goreng khas Yogyakarta. Sajian ayam goreng dengan kremesan gurih dan renyah itu bukan sekadar hidangan yang menemani perjalanan kuliner lintas generasi. Di baliknya, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang perempuan dalam membangun usaha dari kesederhanaan.
Namun, perjalanan panjang itu kini telah sampai pada penghujungnya. Hj. Suharti, pendiri sekaligus sosok di balik rumah makan legendaris Ayam Goreng Suharti, meninggal dunia pada Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 23.21 WIB, dalam usia 86 tahun.
Kabar duka tersebut disampaikan keluarga melalui akun Instagram resmi Ayam Goreng Suharti, @ayamgorengsuhartiofficial, pada Sabtu (31/10/2026). Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga sekaligus menjadi kehilangan bagi dunia usaha kuliner Indonesia, khususnya Yogyakarta yang telah menjadi tempat lahir dan berkembangnya bisnis tersebut.
Jenazah almarhumah disemayamkan di rumah duka Rumah Makan Ayam Goreng Suharti, Jalan Laksda Adisucipto Nomor 208, Yogyakarta. Selanjutnya, ia dimakamkan pada Sabtu (31/10/2026) pukul 14.00 WIB di Makam Keluarga Candisari, Bendan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman.
Di balik kepergiannya, ada kisah perjuangan yang layak dikenang. Hj. Suharti bukanlah pengusaha yang sejak awal memiliki restoran besar, modal berlimpah, ataupun jaringan bisnis yang mapan. Ia justru memulai perjalanan usahanya dengan cara yang sangat sederhana.
Berawal dari Sepeda Tua dan Bakul Ayam Goreng
Perjalanan Hj. Suharti membangun bisnis kuliner bermula sekitar 1956. Saat itu, usianya masih sekitar 26 tahun. Dengan keterampilan memasak yang diwariskan dalam keluarganya, ia mulai menjajakan ayam goreng secara berkeliling.
Bersama sang ayah, Suharti mengangkut dagangannya menggunakan sepeda tua. Sebuah bakul besar berisi ayam goreng menjadi teman perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Wilayah Yogyakarta hingga Surakarta menjadi bagian dari perjalanan awalnya memperkenalkan ayam goreng racikan sendiri. Tidak ada kemewahan dalam aktivitas berdagang tersebut. Ia mengandalkan kemampuan mengolah makanan, ketekunan, serta keberanian menawarkan hasil masakannya kepada masyarakat.
Dari kegiatan sederhana itulah, fondasi usaha yang kelak dikenal luas mulai terbentuk.
Kemampuan Suharti dalam mengolah ayam goreng juga tidak terlepas dari lingkungan keluarganya. Ia merupakan cucu Mbok Berek, sosok yang dikenal dalam sejarah kuliner ayam goreng khas Kalasan.
Tradisi memasak dalam keluarga tersebut menjadi bekal penting bagi Suharti untuk mengembangkan sajian ayam goreng dengan karakter rasa tersendiri.
Warisan resep dan keterampilan keluarga itu kemudian dipadukan dengan pengalaman berdagang yang dijalaninya selama bertahun-tahun. Ia tidak hanya mengandalkan nama besar keluarga, tetapi juga membangun identitas usahanya sendiri.
Membangun Rumah Makan dan Membesarkan Nama Suharti
Perjalanan bisnis Suharti semakin berkembang setelah menikah dengan Syahlan pada 1961. Keduanya kemudian bersama-sama membangun usaha kuliner yang sebelumnya dirintis dari berjualan keliling.
Pada 1968, mereka membeli tanah seluas sekitar 900 meter persegi di kawasan Maguwoharjo, Yogyakarta. Lahan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari perkembangan usaha rumah makan mereka.
Sekitar 1972, rumah makan tersebut mulai beroperasi dengan nama Ayam Goreng Mbok Berek. Dalam perkembangannya, nama itu kemudian berubah menggunakan nama pendirinya sendiri, yakni Ayam Goreng Suharti.
Keputusan menggunakan nama pribadi menjadi langkah penting dalam membangun identitas bisnis. Nama Suharti perlahan dikenal masyarakat sebagai salah satu pilihan rumah makan ayam goreng khas Yogyakarta.
Popularitasnya tidak tumbuh dalam semalam. Perjalanan panjang dalam mempertahankan rasa, pelayanan, dan kualitas sajian menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan pelanggan.
Ayam goreng dengan kremesan yang gurih dan renyah kemudian menjadi salah satu ciri khas yang melekat pada rumah makan tersebut.
Bagi pelanggan, nama Suharti bukan sekadar tulisan pada papan nama restoran. Nama itu menjadi penanda sebuah pengalaman kuliner yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Bangkit Kembali Setelah Menghadapi Persoalan Rumah Tangga
Perjalanan hidup dan bisnis Hj. Suharti bukan tanpa ujian. Di balik perkembangan usaha yang semakin dikenal, ia juga menghadapi persoalan rumah tangga yang kemudian berdampak pada perjalanan bisnisnya.
Pernikahannya dengan Syahlan berakhir pada awal 1990-an. Perpisahan tersebut turut membawa perubahan dalam pengelolaan usaha yang sebelumnya mereka bangun bersama.
Setelah berpisah, keduanya kemudian menjalankan bisnis dengan identitas merek masing-masing. Dari situ muncul dua nama yang berbeda, yakni Ayam Goreng Suharti dan Ayam Goreng Ny. Suharti.
Keduanya perlu dibedakan karena merupakan identitas usaha yang dikelola secara terpisah.
Bagi Suharti, perubahan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan bisnisnya. Ia kembali membangun dan memperkuat identitas usahanya dengan menggunakan nama Ayam Goreng Suharti.
Pada 1992, ia memperoleh hak atas nama usaha Rumah Makan Ayam Goreng Suharti. Salah satu identitas visual yang kemudian dikenal masyarakat adalah logo bergambar wajah dirinya.
Logo tersebut menjadi penanda yang mudah dikenali pelanggan. Nama dan wajah Suharti seolah menjadi representasi dari perjalanan panjang usaha yang telah dirintisnya sejak puluhan tahun sebelumnya.
Pengalaman menghadapi persoalan keluarga dan bisnis menunjukkan bahwa perjalanan seorang pengusaha tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika usaha harus dipertahankan, identitas harus diperjelas, dan keberanian untuk memulai kembali menjadi hal yang sangat penting.
Bukan Sekadar Bisnis, tetapi Bagian dari Sejarah Kuliner Yogyakarta
Selama puluhan tahun, Ayam Goreng Suharti berkembang menjadi salah satu nama yang dikenal dalam industri kuliner Indonesia. Usaha yang bermula dari aktivitas berjualan menggunakan sepeda tua itu kemudian tumbuh menjadi jaringan rumah makan yang menjangkau berbagai kota.
Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kuliner tradisional dapat berkembang menjadi sebuah bisnis yang memiliki identitas kuat tanpa meninggalkan akar resep keluarga.
Ayam goreng khas Kalasan yang menjadi bagian dari tradisi kuliner Yogyakarta memiliki tempat tersendiri di tengah beragam pilihan makanan modern. Sajian dengan bumbu khas dan kremesan renyah menjadi daya tarik yang terus dikenang para pelanggan.
Di sisi lain, perjalanan Suharti juga menjadi gambaran kontribusi perempuan dalam dunia kewirausahaan. Ia membuktikan bahwa usaha dapat tumbuh dari langkah sederhana, selama dijalankan dengan ketekunan dan keberanian menghadapi perubahan.
Kedekatannya dengan kampung halaman juga menjadi bagian dari cerita hidupnya. Lurah Tirtomartani, Kalasan, Indra Gunawan, mengenang Suharti sebagai sosok yang memiliki perhatian terhadap lingkungan asalnya.
Semasa hidup, Suharti disebut senang membantu warga di kampung halamannya, Dukuh Bendan, Candisari, Tirtomartani.
Salah satu bentuk kepeduliannya adalah mewakafkan tanah seluas lebih dari 2.000 meter persegi untuk pemakaman umum warga. Wakaf tersebut diberikan ketika dirinya berulang tahun ke-80 dan kini telah dimanfaatkan masyarakat setempat.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa jejak seseorang tidak selalu diukur dari besarnya usaha yang dibangun, tetapi juga dari manfaat yang dapat dirasakan orang-orang di sekitarnya.
Warisan yang Terus Hidup dalam Ingatan
Kepergian Hj. Suharti pada usia 86 tahun menandai berakhirnya perjalanan hidup seorang perempuan yang telah menghabiskan sebagian besar waktunya membangun usaha kuliner.
Namun, kisah perjuangannya tidak berhenti bersama kepergiannya.
Dari sepeda tua yang digunakan untuk berjualan, bakul besar berisi ayam goreng, hingga berdirinya rumah makan yang dikenal lintas generasi, perjalanan Suharti menyimpan pelajaran tentang ketekunan, kemandirian, dan keberanian mempertahankan sebuah usaha.
Bagi keluarga, ia adalah seorang ibu dan nenek yang meninggalkan kenangan serta kasih sayang. Bagi masyarakat Yogyakarta, namanya menjadi bagian dari perjalanan kuliner daerah. Sementara bagi dunia usaha, kisahnya merupakan gambaran bagaimana sebuah bisnis dapat tumbuh dari keterbatasan menjadi identitas yang dikenal luas.
Ayam Goreng Suharti mungkin akan terus hadir di meja makan para pelanggan. Kremesan yang renyah dan cita rasa ayam gorengnya akan tetap mengingatkan banyak orang pada sebuah perjalanan panjang yang dimulai hampir tujuh dekade lalu.
Hj. Suharti telah berpulang. Namun, nama dan perjuangan perempuan yang merintis usaha dari sepeda tua itu akan tetap menjadi bagian dari cerita kuliner Yogyakarta. [aje]
Link informasi : Sumber