Petani Tebu Bondowoso Optimistis, PG Pradjekan Bidik Produksi 40 Ribu Ton Gula

0

Bondowoso, (beritajatim.com) — Musim giling tebu 2026 di PG Pradjekan mulai berjalan sejak Mei hingga September mendatang. Kalangan petani maupun pihak pabrik optimistis target produksi gula tahun ini dapat tercapai.

Ketua APTRI PG Pradjekan Bondowoso, Rolis Wikarsono mengatakan, kondisi pertumbuhan tebu tahun ini cukup baik karena didukung cuaca yang relatif stabil. Selain itu, proses tanam hingga perawatan tanaman berjalan tanpa kendala berarti.

“Tidak ada keterlambatan dalam proses tanam maupun perawatan hingga pemberian pupuk oleh petani,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).

Berdasarkan kondisi tersebut, petani bersama pihak pabrik menyusun target bahan baku musim giling sebesar 5,5 juta kuintal atau sekitar 550 ribu ton tebu.

Menurut Rolis, petani siap memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut. Bahkan, para petani berkomitmen memprioritaskan pengiriman tebu ke PG Pradjekan dibandingkan ke pabrik gula lain.

Saat ini jumlah anggota APTRI Bondowoso mencapai sekitar 750 petani dengan total luasan lahan lebih dari 6.000 hektare yang tersebar di berbagai wilayah Bondowoso.

“Karena PG Pradjekan merupakan satu-satunya pabrik gula yang beroperasi di Bondowoso,” katanya.

Dari target bahan baku itu, produksi gula tahun ini ditargetkan minimal mencapai 40 ribu ton.
Selain target produksi, petani juga berharap kualitas pengolahan gula di pabrik semakin optimal. Sebab kualitas gula dinilai sangat menentukan daya serap pasar dan nilai jual saat proses lelang.

“Kalau kualitas gula bagus, saat tender atau lelang akan lebih mudah terserap dan harga jualnya lebih tinggi,” jelasnya.

Petani juga berharap pemerintah segera menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) gula petani. Hingga musim giling berjalan, ketentuan harga acuan tersebut belum diterbitkan.

Tahun lalu HAP gula petani berada di angka Rp14.500 per kilogram. Tahun ini petani berharap harga dapat naik di atas Rp15 ribu per kilogram.

Menurut Rolis, harapan kenaikan harga tersebut cukup beralasan karena biaya produksi terus mengalami kenaikan. Mulai dari ongkos tenaga kerja, biaya angkut hingga harga pupuk yang meningkat sejak tahun lalu.

“Dengan kenaikan biaya produksi, petani berharap ada penyesuaian harga agar usaha tani tebu tetap memberikan keuntungan yang layak,” tegasnya.

Sementara itu, Cluster Head Pabrik Gula Region IV Jawa Timur sekaligus Pelaksana Harian General Manager PG Pradjekan, Chandra Sakti Wijaya mengatakan, perawatan tebu yang baik menjadi faktor utama dalam meningkatkan rendemen gula.

Dalam Rencana Kerja Perusahaan (RKP), PG Pradjekan menargetkan rendemen berada di angka 7,3 persen..“Dengan capaian itu, produksi minimal 40 ribu ton gula optimistis dapat diraih,” ujarnya.

Meski demikian, pihaknya tetap mewaspadai potensi pengaruh iklim seperti El Nino. Namun, sekalipun target bahan baku tidak tercapai penuh, PG Pradjekan tetap menargetkan produksi gula minimal di angka 40 ribu ton.

Menurut Chandra, target tersebut penting untuk menjaga kesejahteraan petani sekaligus memperkuat hubungan harmonis antara pabrik dan petani binaan.

Ia mengakui, pada musim sebelumnya sempat terjadi kendala penyerapan akibat kapasitas penampungan gula yang penuh. Karena itu, pihaknya berharap proses Delivery Order (DO) maupun pembayaran gula tahun ini dapat berjalan lebih lancar.

PG Pradjekan juga mendukung harapan petani terkait harga gula di kisaran Rp15 ribu per kilogram. Jika harga tersebut terealisasi, perputaran ekonomi gula rakyat diperkirakan bisa mencapai Rp600 miliar.

Selain harga gula, pihak pabrik juga menyoroti harga tetes yang saat ini masih belum pasti. Umumnya harga tetes berada di kisaran Rp2.000 dan diharapkan tetap mendekati angka tersebut agar mampu memberikan margin keuntungan bagi petani.

Terkait kualitas produksi, PG Pradjekan menggunakan standar ICUMSA (International Commission Uniform Method of Sugar Analysis) sebagai acuan mutu gula.

Pihak pabrik menetapkan batas maksimal ICUMSA di angka 300. Sementara pada 2025 lalu, rata-rata kualitas gula PG Pradjekan berada di angka 230..“Artinya kualitas gula PG Pradjekan cukup stabil dan memenuhi standar pasar,” ujar Chandra.

Menurutnya, tingginya minat pasar terhadap gula PG Pradjekan menjadi bukti kualitas produk cukup baik. Jika sebelumnya sempat terjadi penumpukan stok, hal itu lebih dipengaruhi melemahnya serapan pasar akibat kebijakan impor gula nasional.

Karena itu, pihaknya menyambut baik pembentukan satgas impor gula yang diharapkan mampu menjaga stabilitas pasar serta meningkatkan serapan gula petani dalam negeri. (awi/aje)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.