Prioritaskan Keselamatan, Program Tanazul KKHI Makkah Sukses Pulangkan Lebih Awal 142 Jemaah Haji Sakit

0

RINGKASAN BERITA:

  • KKHI Makkah berhasil memulangkan 142 jemaah haji sakit ke tanah air lewat skema mutasi kloter atau tanazul.
  • Otoritas medis mencatat total pengajuan tanazul yang masuk telah menembus 334 permohonan resmi dari kloter.
  • Aspek kelayakan terbang jemaah diuji ketat melalui proses asesmen dan konsultasi dengan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan.
  • Tiga jemaah sakit dialihkan rute evakuasinya ke Madinah akibat penuhnya slot penerbangan kepulangan di Bandara Jeddah.

Makkah (beritajatim.com) — Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi melalui Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) terus mengoptimalkan operasional program tanazul (evakuasi medis) guna mempercepat pemulangan jemaah haji yang mengalami gangguan kesehatan serius. Skema khusus ini diluncurkan untuk memulangkan jemaah dengan indikasi medis tertentu lebih awal ke Indonesia tanpa harus menunggu jadwal kepulangan kelompok terbang (kloter) asalnya.

Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, program kemanusiaan ini diprioritaskan bagi jemaah yang dinilai memenuhi kriteria kelaikan terbang pasca-puncak Armuzna. Selain mempercepat pemulangan pasien yang kondisinya stabil, tanazul juga mengurus jemaah yang masih tertinggal di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) sementara kloter aslinya sudah bertolak ke tanah air.

“Jadi program tanazul ini merupakan program di mana jemaah haji atas indikasi medis itu dipulangkan lebih awal dari kloternya atau jika jemaah hajinya dirawat di rumah sakit dan kloternya telah pulang ke Indonesia itu kita pulangkan,” urai Penanggung Jawab (Pj) Evakuasi Tanazul KKHI Makkah, dr. Syougie, SpKP, di Makkah.

Dokter Syougie menjelaskan, setiap jemaah yang diusulkan oleh dokter kloter wajib melewati proses penyaringan (skrining) kesehatan yang ketat. Aspek keselamatan penerbangan internasional menjadi draf parameter utama sebelum tim medis mengeluarkan rekomendasi izin terbang ke tanah air.

Proses asesmen menyeluruh dilakukan terhadap kondisi fisik jemaah, baik yang mengidap penyakit penyerta (komorbid) sejak dari Indonesia maupun jemaah yang baru saja merampungkan perawatan intensif di RSAS. Penilaian stabilitas kondisi pasien dilakukan lewat kolaborasi interaktif dengan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) yang disesuaikan dengan jenis penyakit jemaah.

“Alur yang kita lakukan adalah setelah pulang dari rumah sakit atau yang datang ke kita, itu akan kita nilai dulu stabilitasnya lalu akan kita konsulkan ke DPJP yang terkait. Contoh misalnya dia ada masalah jantung kita konsulkan ke penyakit jantung, dia paska stroke kita konsulkan ke dokter saraf. Setelah itu baru nanti hasilnya kita nilai apakah layak untuk terbang atau tidak, baru nanti kita programkan untuk mutasi kloternya ke Yanpul (Pelayanan Pemulangan),” papar dokter yang juga berdinas di RS UI tersebut.

Hingga pertengahan Juni ini, total permohonan tanazul yang masuk ke meja sirkulasi data KKHI telah mencapai ratusan kasus. Kendati demikian, tidak seluruh berkas pengajuan dieksekusi menjadi program tanazul, lantaran sebagian jemaah menunjukkan tren pemulihan yang cepat sehingga bisa langsung ikut pulang secara normal bersama rombongan kloter asalnya.

“Yang masuk itu ada hampir 400 permohonan yang masuk tetapi itu baru permohonan saja karena kadang mereka telah memohonkan tetapi jemaahnya telah pulang, itu bisa kembali dengan kloternya. Jadi permohonannya bukan ditolak tetapi dia tidak jadi kita tanazulkan,” kata dr. Syougie.

Berdasarkan draf rincian data terbaru yang dihimpun KKHI Makkah, sebanyak 142 jemaah haji sakit telah sukses diterbangkan ke tanah air lewat jalur tanazul. Adapun akumulasi dokumen pengajuan tertulis menyentuh angka 334 kasus, belum termasuk penambahan 33 permohonan baru yang masuk pada gelombang berikutnya.

Dinamika keterbatasan fasilitas bandara juga memicu dilakukannya langkah taktis di lapangan. Pada pelaksanaan evakuasi, terdapat tiga jemaah sakit yang semula dijadwalkan terbang via Bandara Internasional King Abdulaziz Jeddah, terpaksa dialihkan pergerakannya melalui jalur darat menuju Kota Nabawi akibat padatnya kapasitas operasional kargo udara di Jeddah.

“Ini tiga ke Jeddah, nanti kita agak siangan karena slotnya sudah penuh. Kita evakuasi ke Madinah karena penerbangannya sudah penuh. Jadi kita evakuasi ke Madinah, baru nanti dari Madinah ditanazulkan lewat Bandara Madinah,” imbuhnya.

Manajemen KKHI memastikan pengawasan medis terhadap jemaah sakit tidak akan terputus hingga detik-detik menjelang pesawat lepas landas. Seluruh jemaah tanazul diwajibkan menjalani pemeriksaan ulang (re-assessment) enam jam sebelum jadwal keberangkatan di area bandara, lengkap dengan pengawalan melekat oleh tim Tenaga Kesehatan Haji (TKH) guna menjamin keamanan pasien selama berada di dalam kabin pesawat. [ian/MCH]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.