Program Kurasaki SMPN 1 Maospati Pangkas Sampah dari 2 Kuintal Jadi 10 Kg per Hari

0

Ringkasan Berita:

  • Program Kurasaki di SMPN 1 Maospati menekan volume sampah harian dari hampir 1-2 kuintal menjadi tidak lebih dari 10 kilogram.
  • Siswa diwajibkan membawa tumbler dan wadah makanan untuk mengurangi sampah kemasan plastik.
  • Kebiasaan tersebut mulai terbawa siswa ke rumah dan mendorong mereka saling mengingatkan soal sampah.
  • Inovasi Kurasaki menarik perhatian sekolah lain hingga Magetan, Madiun, dan Malang untuk melakukan studi tiru.

Magetan (beritajatim.com) – Keprihatinan terhadap tumpukan sampah plastik di lingkungan sekolah mendorong SMPN 1 Maospati, Kabupaten Magetan, menerapkan program Kurangi Sampah Sekolah Kita atau Kurasaki. Program tersebut berhasil memangkas volume sampah harian dari yang sebelumnya hampir mencapai 1-2 kuintal menjadi tidak lebih dari 10 kilogram per hari.

Kepala SMPN 1 Maospati, Seno, mengatakan program tersebut berawal dari kondisi lingkungan sekolah yang dipenuhi sampah kemasan jajanan siswa. Tempat sampah di sejumlah teras sekolah sebelumnya kerap penuh hingga menimbulkan kesan kumuh.

“Jadi, eh saya buat program Kurasaki ya. Snesti Kurasaki ini berangkat dari keprihatinan saya dan tentunya tidak hanya saya sebenarnya. Bapak, Ibu guru pun juga sangat prihatin itu ketika melihat sampah-sampah yang berserakan di lingkungan sekolah. Utamanya eh jajanan-jajanan itu eh sumber utamanya dari jajanan-jajanan anak-anak itu, kemasannya itu,” kata Seno, Selasa (8/9/2026).

Menurut Seno, saat pertama kali bertugas di sekolah tersebut, kondisi tempat sampah menjadi salah satu persoalan yang cukup mencolok. Sampah plastik dari kemasan air minum, es, botol dan gelas plastik, hingga bungkus makanan ringan banyak ditemukan.

“Dulu ketika saya awal masuk di sini tugas, saya melihat di teras-teras di itu tempat sampah itu selalu over eh sampah. Jadi, baik itu sampah plastik kemasan dari itu air minum atau es itu terus botol air mineral plastik dan gelas air mineral plastik, terus juga eh jajanan-jajanan yang semuanya rata-rata kemasannya plastik seperti pentol curah itu enggak habis langsung buang gitu,” ujarnya.

Seno kemudian mengajak jajaran guru dan staf sekolah membahas persoalan tersebut. Dari pembahasan itu lahir program Snesti Kurasaki. Setelah mendapat dukungan guru, program disosialisasikan kepada siswa melalui pembelajaran di kelas, kegiatan upacara, hingga komunikasi dengan orang tua atau wali murid.

Salah satu aturan utama program tersebut adalah siswa membawa tas berisi tumbler untuk minuman sekaligus wadah makanan. Guru juga diminta menjadi teladan dengan menerapkan kebiasaan yang sama.

Setiap pagi, siswa diperiksa di pintu gerbang untuk memastikan membawa perlengkapan tersebut. Pemeriksaan dilakukan guru piket bersama pengurus OSIS, termasuk mengecek barang bawaan siswa untuk memastikan tidak membawa jajanan dengan kemasan yang berpotensi menambah sampah plastik di lingkungan sekolah.

Sumber sampah lainnya berasal dari kantin. Karena itu, pihak sekolah juga mengumpulkan para penjual kantin untuk diberikan sosialisasi dan edukasi. Langkah tersebut sempat menghadapi pro dan kontra karena berkaitan dengan keuntungan pedagang.

“Tapi, saya dibantu oleh eh tim Kurasaki sekolah saya yang komitmennya kuat. Terus mengontrol itu, terus men-support program itu dan kita juga punya jargon ya ya yang namanya eh buanglah sampah dengan tempatnya. Kayak termasuk juga ada moto kita ‘Sampahku adalah tanggung jawabku,’” tutur Seno.

Sekolah bahkan tidak lagi menyediakan banyak tempat sampah. Hanya dua tempat sampah yang disediakan, yakni satu di bagian tata usaha untuk mengantisipasi tamu yang belum memahami program dan satu di kantin untuk sampah organik.

Dampak program tersebut terlihat dari volume sampah yang dihasilkan. Sebelum Kurasaki berjalan, sampah sekolah rata-rata mencapai hampir satu kuintal bahkan bisa dua kuintal dalam sehari. Kini jumlahnya turun drastis.

“Paling satu hari itu tidak lebih dari 10 kilogram kayak gitu yang itu didominan dari sampah-sampah daun dan sampah organik dari dari kantin. Termasuk biasa dari anak-anak kertas, kertas dan sebagainya itu, rautan pensil satu, dua kayak gitu. Tapi, yang eh plastik sudah bisa kita minimalisir gitu,” jelasnya.

Budaya mengurangi sampah tersebut juga mulai dibawa siswa ke luar sekolah. Aleya Saqila Tungga Dewi, siswi kelas IX D, mengaku awalnya cukup kaget dengan penerapan Kurasaki karena berbeda dengan kebiasaan yang ia alami ketika masih duduk di sekolah dasar.

Namun, setelah terbiasa, Aleya mulai memahami manfaat program tersebut. Kebiasaan membawa wadah sendiri bahkan terbawa hingga ke rumah.

“Jadi, saya berpikir, ‘Oh, iya. Program Kurasaki ini kalau dikira-kira mengurangi sampah juga ya.’ Nah, terus saya di rumah jadi kebawa gitu loh. Budaya dari sekolah jadi kebawa di rumah,” ujar Aleya.

Ia mengatakan siswa kini terbiasa membawa tas berisi kotak bekal dan tumbler. Wadah tersebut dapat digunakan untuk membawa bekal maupun membeli makanan di kantin sehingga tidak membutuhkan kantong plastik.

Kebiasaan tersebut juga membuat siswa saling mengingatkan. Jika ada teman yang membuang sampah dari luar sekolah, mereka akan mengingatkan agar sampah tersebut dibawa kembali keluar.

“Loh, kok dibuang sembarangan? Kenapa enggak dibawa pulang aja? Kan sampahnya dari luar bisa kembali keluar,” katanya.

Program Kurasaki juga tidak berhenti pada pengurangan sampah plastik. Ketika muncul tantangan baru, sekolah mencoba mencari solusi kreatif. Salah satunya dengan memanfaatkan tali rafia bekas kegiatan untuk dibuat menjadi kerajinan berupa sulak atau kemoceng yang dikerjakan siswa.

Program tersebut kini menjadi salah satu inovasi SMPN 1 Maospati yang mendapat perhatian dari sekolah lain. Sejumlah sekolah dari Magetan, Madiun, hingga Malang disebut telah datang untuk melakukan studi tiru. Seno juga pernah menjadi narasumber mengenai program tersebut di SMP Dagangan.

Apresiasi juga datang dari jajaran pemerintah daerah. Wakil Bupati Magetan disebut beberapa kali menyinggung SMPN 1 Maospati sebagai contoh dalam menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Camat Magetan juga pernah berkunjung untuk melihat langsung penerapan program tersebut.

Meski demikian, Seno mengakui masih terdapat tantangan, terutama dalam meminimalkan sampah dari kegiatan tertentu serta sampah yang berasal dari luar sekolah. Pihak sekolah menargetkan pengelolaan sampah dapat semakin mendekati kondisi zero waste.

Seno berharap keberhasilan Kurasaki dapat ditularkan ke sekolah dan lingkungan masyarakat lainnya. Menurut dia, dukungan orang tua dan masyarakat menjadi penting karena siswa lebih banyak menghabiskan waktunya di luar sekolah. Dengan dukungan tersebut, kebiasaan mengurangi sampah diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi berkembang menjadi budaya di keluarga dan masyarakat. [fiq/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.