Restorasi Pendapa Besuki dan Hari Raya Tembakau di Situbondo
Jember (beritajatim.com) – Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menggunakan sejarah Besuki dan tembakau sebagai daya ungkit kultural bagi pembangunan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Dia berharap mendapat dukungan dari perguruan tinggi, terutama Universitas Jember.
Gagasan itu muncul setelah Rio kesulitan mencari keunggulan daerah Situbondo yang bisa dikembangkan dibandingkan daerah lain di eks Karesidenan Besuki.
“Memang kami kesulitan. Situbondo secara size ekonomi paling kecil, di Sekar Kijang (Seluruh Eks Karesidenan Besuki dan Lumajang). Saya mau cari jurus apa?” kata Bupati Rio dalam Sarasehan Nasional Akselerasi Membangun Indonesia dari Daerah di Gedung R. Sudjarwo, Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (3/7/2026).
Sejumlah keunggulan sudah dimiliki daerah-daerah di sekitar Situbondo. “Kalau wisata alam, entertainment sudah ada Banyuwangi. Wisata entertainment banyak sekali. Di Jember enggak usah ada wisata, ada kampus yang menolong. Perputaran ekonominya dahsyat sekali,” kata Rio yang merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember.
Kabupaten Lumajang dan Bondowoso juga memiliki kekhasan masing-masing. “Saya mikir, apa? Akhirnya kami menemukan satu titik balik setelah diskusi dengan kelompok-kelompok literasi yakni mengembalikan kejayaan Besuki,” kata Rio.
Besuki adalah nama karesidenan di pesisir utara yang berpusat di Kabupaten Situbondo dan membawahi wilayah Tapal Kuda, yang meliputi Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso. Nama Besuki juga menjadi nama tembakau yang menjadi bahan baku cerutu, yakni tembakau Besuki Na-Oogst.
Kini Besuki menjadi nama sebuah kecamatan di Situbondo. Menurut Rio, Besuki harus dikembalikan menjadi prototipe sebuah kota yang memiliki kejayaan pada masa lampau. “Maka kita ambil langkah, salah satunya adalah merestorasi pendopo lawas tahun 1818,” katanya.
Pendapa tersebut bernama Pendapa Pate Alos dan diresmikan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada 25 Januari 2026. Rio ingin menjadikan Besuki sebagai simbol inovasi. “Nama itu sangat penting untuk sebuah simbol inovasi. Saya tidak maju ke depan tapi saya ke belakang untuk melompat,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Situbondo bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Serang untuk membangkitkan kembali jalur legendaris Anyer–Panarukan. “Mungkin tahun ini sudah ada aksi,” kata Rio.
Pemerintah Kabupaten Situbondo juga memprakarsai Festival Hari Raya Tembakau di Besuki. “Situbondo adalah penghasil tembakau terbesar ketiga. Pekerja tembakau di Situbondo banyak sekali. Bahkan kemarin kami kasih (kepesertaan) BPJS Ketenagakerjaan. Ada empat ribu lima ribu orang yang kami kasih untuk menjamin keselamatan kerjanya,” kata Rio.
Rio berharap langkah tersebut mendapat dukungan dari perguruan tinggi. “Karena yang memikirkan itu adalah universitas sebenarnya. Yang bisa dikatakan punya normal ‘judgement’ akademik adalah universitas,” katanya.
Sayangnya, menurut Rio, banyak ide kepala daerah yang dibiarkan berlalu begitu saja tanpa ada kajian dan refleksi dari komunitas epistemik perguruan tinggi.
Rio juga melontarkan guyonan mengenai aturan di Universitas Jember yang tidak memperkenankan audiens merokok dalam forum ilmiah. “Unej tidak konsisten. Lambangnya daun tembakau. Tapi kita enggak boleh merokok di sini. Padahal, saya sedang membangun narasi yang luar biasa soal tembakau,” katanya, disambut tawa hadirin. [wir/kun]
Link informasi : Sumber