Setelah Gempa, Ada Maradona dalam Piala Dunia 1986

0

Piala Dunia 1986 mengalami dejavu. Sebagaimana Chile yang mengalami gempa bumi dahsyat sebelum menjadi tuan rumah Piala Dunia 1962, Meksiko City diguncang gempa bumi berkekuatan 8,0 skala Richter pada 19 September 1985, delapan bulan sebelum turnamen dimulai.

Dalam waktu kurang dari satu menit, ribuan orang meninggal dunia, puluhan ribu lainnya terluka. Ribuan bangunan runtuh, dan ratusan ribu penduduk kehilangan tempat tinggal.

Sebagaimana Chile, Meksiko juga diragukan bisa melaksanakan Piala Dunia. FIFA mempertimbangkan alternatif tuan rumah lain. Meksiko sendiri sebenarnya menjadi tuan rumah menggantikan Kolombia yang sudah ditunjuk pada 1974.

Krisis ekonomi, bencana alam, kontroversi, dan ketidakpastian situasi keamanan membuat Kolombia kesulitan meyakinkan dunia untuk melanjutkan penyelenggaraan Piala Dunia. Kolombia sempat meminta jumlah peserta dikurangi dari 24 menjadi 16 tim. Namun FIFA menolak permintaan itu.

Akhirnya, pada 5 November 1982, Kolombia menyerahkan hak penyelenggaraan. Amerika Serikat dan Kanada sempat menjadi kandidat kuat, namun FIFA memilih Meksiko, negara yang pernah sukses menggelar Piala Dunia 1970.

Gempa bumi tak menyurutkan pemerintah Meksiko. Toh ada yang berbeda dengan Chile 1962. Di Meksiko, stadion-stadion yang akan digunakan untuk Piala Dunia tetap utuh. Ajaib.

Pemerintah Meksiko merekonstruksi Mexico City dengan cepat dan persiapan kompetisi terus dilanjutkan. Seperti di Chile, sepak bola sekali lagi menjadi sarana pemersatu masyarakat dan Meksiko berhasil mempertahankan statusnya sebagai tuan rumah.

Sejumlah negara kuat berhasil lolos dari babak kualifikasi benua. Brasil, Argentina, dan Uruguay lolos sebagai juara grup masing-masing. Paraguay kemudian merebut tiket terakhir setelah mengalahkan Kolombia dalam babak play-off.

Di Eropa, kejutan terbesar terjadi ketika Belanda, finalis 1974 dan 1978, gagal lolos kualifikasi setelah kalah aturan gol tandang dari Belgia dalam play-off. Sementara itu, kekuatan besar seperti Jerman Barat, Prancis, dan Spanyol berhasil mencapai putaran final.

Dari Britania Raya, semua tim lolos kecuali Wales. Irlandia Utara kembali mencatat prestasi dengan tampil untuk kedua kalinya secara beruntun.

Afrika diwakili Aljazair dan Maroko. Dari Asia, Irak dan Korea Selatan berhasil melaju. Kanada memperoleh hiburan setelah gagal menjadi tuan rumah dengan lolos ke putaran final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.

Piala Dunia dibuka pada 31 Mei 1986 di Stadion Azteca dengan menghadirkan pertandingan antara juara bertahan Italia dengan Bulgaria.

Argentina dan Italia lolos tanpa terkalahkan dari Grup A. Meksiko dan Paraguay melakukan hal serupa di Grup B. Di Grup C, Kanada tersingkir tanpa meraih poin maupun gol. Uni Soviet dan Prancis melaju. Brasil dan Spanyol juga lolos dengan nyaman dari Grup D.

Denmark dijuluki Tim Dinamit karena membuat kejutan di Grup E. Mereka memenangi seluruh pertandingan grup, termasuk kemenangan telak 6-1 atas Uruguay dan kemenangan 2-0 atas Jerman Barat.

Sebaliknya, setelah kalah dari Portugal dan bermain imbang melawan Maroko, Inggris terancam tersingkir. Kapten Bryan Robson mengalami cedera bahu, sementara Ray Wilkins menjadi pemain Inggris pertama yang mendapat kartu merah di putaran final Piala Dunia. Namun kemenangan atas Polandia, berkat hattrick Gary Lineker, memastikan Inggris lolos.

Di Babak 16 Besar, Belgia yang lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik dalam penyisihan grup mengalahkan Uni Soviet dalam pertandingan tujuh gol yang mendebarkan.

Meksiko menundukkan Bulgaria 2-0. Brasil menghancurkan Polandia 4-0. Argentina mengalahkan Uruguay 1-0.

Dengan dipimpin Michel Platini, Prancis menyingkirkan juara bertahan Italia 2-0. Jerman Barat mengatasi perlawanan Maroko melalui gol tunggal Lothar Matthäus. Inggris lolos ke perempat final dengan mengalahkan Paraguay 3-0.

Sementara itu Denmark terkena batunya di Babak 16 Besar. Tuim Dinamit justru diledakkan Spanyol 1-5. Tokoh utama kemenangan Spanyol adalah Emilio Butragueño yang mencetak empat gol.

Perempat final menjadi panggung bagi Diego Maradona. Pemain Argentina itu telah dikenal sejak usia muda dan membangun reputasi besar bersama Boca Juniors, Barcelona, dan Napoli. Tubuhnya mungkin tidak tinggi, namun kemampuan teknik, visi bermain, dan keberanian menjadikannya \pembeda.

Itu ditunjukkannya dalam perempat final menghadapi Inggris. Sebuah pertandingan yang sarat dengan memori politis, menyusul kekalahan Argentina dari Inggris dalam Perang Falklands atau Malvinas beberapa tahun sebelumnya.

Setelah babak pertama yang ketat, Maradona membuka skor pada menit ke-51 melalui gol kontroversial yang dokenal dengan ‘Tangan Tuhan’ karena dicetak menggunakan tangan. Wasit dan hakim garis tidak melihat pelanggaran tersebut. Namun penonton televisi (dan juga mungkin di stadion) tahu betul apa yang terjadi.

Setelah mempermalukan Inggris lewat gol kontroversial, empat kemudian Maradona berlari sendirian dari garis pertahanan Argentina, menggiring bola melewati sejumlah pemain Inggris, dan mengecoh Peter Shilton sebelum mencetak gol kedua.

Gol itu kemudian diakui sebagai Gol Abad Ini oleh FIFA. Inggris sempat memperkecil ketertinggalan melalui Gary Lineker. Namun Argentina tetap menang 2-1.

Tak berhenti di sana. Maradona kembali menjadi penentu di semifinal saat melawan Belgia. Dia mencetak dua gol kemenangan. Salah satunya lahir setelah aksi individu luar biasanya.

Final mempertemukan Argentina yang dilatih Carlos Bilardo dengan Jerman Barat yang dilatih Franz Beckenbauer. Di hadapan lebih dari 114.000 penonton di Stadion Azteca, Argentina mengendalikan pertandingan.

José Luis Brown membawa mereka unggul, disusul Jorge Valdano menggandakan keunggulan menjadi 2-0.

Namun Jerman Barat tidak menyerah. Karl-Heinz Rummenigge memperkecil kedudukan, dan Rudi Völler menyamakan skor menjadi 2-2.

Ketika perpanjangan waktu tampak tak terhindarkan, Maradona kembali menunjukkan sentuhan magisnya. Dia mengirim umpan terobosan sempurna kepada Jorge Burruchaga yang dengan tenang mencetak gol kemenangan.

Argentina menang 3-2 dan meraih gelar kedua juara dunia. Sementara itu Maradona dengan lima golnya dinobatkan sebagai pemain paling kreatif, paling berpengaruh, dan paling menentukan sepanjang kompetisi. Piala Dunia 1986 adalah Piala Dunia Diego Maradona. [wir/kun]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.