Suhu Udara Mojokerto Terasa Lebih Dingin, BPBD Pastikan Belum Fenomena Bediding
Ringkasan Berita:
- Suhu udara di Mojokerto dan sejumlah wilayah Jawa Timur terasa lebih dingin dalam beberapa hari terakhir.
- BPBD Jawa Timur memastikan kondisi tersebut merupakan fenomena normal saat memasuki puncak musim kemarau, bukan bediding.
- Angin Monsun Australia, langit cerah, dan kelembapan rendah menjadi penyebab utama udara terasa lebih dingin.
- Masyarakat diimbau menjaga kesehatan dan rutin memantau informasi cuaca dari BMKG selama musim kemarau.
Mojokerto (beritajatim.com) – Suhu udara di Mojokerto mulai terasa lebih dingin dalam beberapa hari terakhir. Kondisi serupa juga dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Timur seiring memasuki puncak musim kemarau. Meski demikian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur memastikan penurunan suhu tersebut masih tergolong normal dan belum termasuk fenomena bediding.
Berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda pada Kamis (2/7/2026), cuaca di Jawa Timur pada pagi hari diprakirakan cerah dengan potensi hujan ringan. Memasuki siang hingga sore, kondisi cuaca berubah menjadi cerah berawan dengan peluang hujan ringan.
Sementara pada malam hingga dini hari, cuaca diprakirakan cerah disertai potensi kabut atau asap. BMKG juga mencatat suhu udara di Jawa Timur berkisar antara 9 hingga 35 derajat Celsius dengan kelembapan udara 42 hingga 100 persen. Angin bertiup dari arah timur laut dengan kecepatan 5 hingga 31 kilometer per jam.
Agen Informasi Bencana BPBD Jawa Timur, Achmad Kurniawan, mengatakan suhu dingin yang mulai dirasakan masyarakat merupakan dampak alami dari musim kemarau dan menjadi salah satu indikator Jawa Timur mulai memasuki puncak musim kemarau.
“Fenomena ini merupakan kondisi yang normal sebagai tanda Jawa Timur memasuki puncak musim kemarau. Biasanya kondisi ini paling terasa pada Juli hingga September. Namun, saat ini belum masuk kategori bediding (suhu udara dingin yang terjadi di tengah musim kemarau),” ungkapnya.
Wawan, sapaan akrab Achmad Kurniawan, menjelaskan suhu udara di Jawa Timur saat ini masih berada pada kisaran 22 hingga 27 derajat Celsius. Adapun fenomena bediding umumnya terjadi ketika suhu udara turun hingga kisaran 10 sampai 18 derajat Celsius.
Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan suhu udara terasa lebih dingin selama musim kemarau. Faktor pertama adalah pengaruh Angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin dari Benua Australia menuju Indonesia.
“Karena Australia sedang mengalami musim dingin, angin tersebut membawa udara yang lebih dingin dan kering ke wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur. Faktor kedua adalah kondisi langit yang cenderung cerah akibat minimnya tutupan awan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, minimnya tutupan awan membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer ketika malam tiba. Akibatnya, suhu udara turun lebih cepat sehingga udara terasa lebih dingin, terutama menjelang pagi.
Selain itu, kelembapan udara yang rendah selama musim kemarau turut mempercepat proses pendinginan udara pada malam hingga dini hari sehingga suhu semakin terasa sejuk dibandingkan musim hujan.
BPBD Jawa Timur mengimbau masyarakat untuk menjaga kondisi kesehatan selama suhu dingin masih berlangsung. Warga disarankan mengenakan pakaian hangat seperti jaket, pakaian berlapis, syal, maupun kaus kaki saat beraktivitas pada malam dan pagi hari.
“Kepada masyarakat agar menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, memperbanyak minum air hangat, serta mengurangi konsumsi kafein berlebihan yang dapat memicu dehidrasi. Selain kesehatan, masyarakat agar memperhatikan kondisi kulit yang rentan kering,” paparnya.
Selain menjaga kesehatan, masyarakat juga diminta mewaspadai kulit kering yang umum terjadi selama musim kemarau dengan menggunakan pelembap secara rutin. Bagi petani dan peternak, BPBD menyarankan kandang ternak ditutup agar tetap hangat, sedangkan tanaman yang rentan terhadap suhu rendah dapat diberi pelindung untuk meminimalkan dampak cuaca.
“Kami mengimbau masyarakat agar terus memantau informasi prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG secara berkala sehingga dapat mengantisipasi perubahan cuaca maupun penurunan suhu yang terjadi selama musim kemarau,” pungkasnya. [tin/beq]
Link informasi : Sumber