Takut Kolesterol dan Asam Urat, Begini Cara Sehat Olah Daging Kurban
Malang (beritajatim.com) – Pakar Teknologi Pangan sekaligus Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ayu Diawi Ismayawati, S.TP., M.Sc., Ph.D., memberikan cara sehat untuk mengolah daging kurban. Menurutnya, sumber masalah kesehatan bukanlah pada daging kurban.
Ancaman penyakit justru bermula dari kebiasaan keliru masyarakat dalam mengolah, mengatur porsi makan, hingga tata cara penyimpanan daging. Ayu menjelaskan, daging sapi maupun kambing pada dasarnya mengandung protein hewani, lemak, serta purin yang bermanfaat bagi tubuh apabila dikonsumsi dalam porsi wajar.
Ayu menjelaskan, persoalan kesehatan baru akan muncul ketika konsumsi dilakukan secara berlebihan. Risiko ini kian melonjak apabila hidangan kurban didominasi oleh olahan jeroan bersantan kental, yang berpotensi besar memicu peningkatan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat, serta memicu nyeri persendian akibat penumpukan kristal asam urat.
“Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak,” terang Ayu dalam keterangannya kepada Humas UMM pada Kamis (28/5/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa bagian yang paling wajib dibatasi konsumsinya adalah organ dalam atau jeroan. Hati, paru, limpa, usus, hingga otak memiliki kandungan purin yang jauh melebihi bagian daging murni, sehingga sangat rawan bagi penderita asam urat.
Guna menekan tingginya risiko tersebut, Ayu menyarankan masyarakat untuk menerapkan teknik trimming, yakni membuang lapisan lemak putih pada daging segar sebelum proses memasak dimulai. Metode perebusan awal juga sangat direkomendasikan.
Kuah dari rebusan pertama sebaiknya langsung dibuang agar kadar purin menurun secara signifikan. Langkah ini menjadikan olahan masakan, seperti sup bening, sebagai opsi yang jauh lebih aman bagi sistem pencernaan.
“Kalau membuat gulai atau tongseng, santannya jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin,” papar Ayu.
Ia juga menambahkan bahwa teknik tumis air bisa menjadi alternatif yang lebih sehat dibandingkan menumis menggunakan banyak minyak goreng.
Selain proses memasak, pakar pangan ini menyoroti kesalahan fatal yang sering terjadi di tingkat rumah tangga terkait manajemen penyimpanan. Banyak masyarakat yang mencairkan daging beku, memotong sebagian untuk dimasak, lalu mengembalikan sisanya ke dalam mesin pendingin.
Menurut Ayu, daging segar seharusnya langsung dipotong dan dibagi ke dalam kantong kecil sesuai takaran sekali masak sebelum dimasukkan ke dalam freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius.
Proses pencairannya pun membutuhkan perhatian khusus. Daging beku harus diletakkan di bagian chiller kulkas agar mencair perlahan, bukan dibiarkan terbuka pada suhu ruang.
“Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba. Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau,” tegasnya mengingatkan.
Sebagai langkah pencegahan sekaligus menjaga gizi, orang dewasa dengan kondisi kesehatan normal dianjurkan untuk membatasi konsumsi daging matang maksimal pada kisaran 50 hingga 100 gram per hari. Keseimbangan metabolisme tubuh juga wajib dipertahankan dengan mendampingi sajian daging bersama sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih.
“Serat dan cairan berfungsi penting untuk menahan laju penyerapan lemak jenuh di dalam saluran cerna. Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup,” pungkas Ayu. (dan/kun)
Link informasi : Sumber