Tavares Blak-Blakan Bicara Kekuatan Persebaya dan Tuntutan Juara Liga
Surabaya (beritajatim.com) – Menghadapi kerasnya kompetisi Super League 2026/2027 musim ini, pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, secara blak-blakan menakar kekuatan dan sumber daya yang dimiliki skuadnya.
Ia menyadari bahwa kesuksesan skuad Bajul Ijo saat menjuarai Piala Presiden 2026 pramusim lalu telah memicu euforia sekaligus melambungkan ekspektasi suporter untuk kembali merengkuh gelar juara liga.
Namun, di tengah euforia tersebut, pelatih asal Portugal ini menitipkan pesan penting agar semua pihak tidak terbuai oleh tingginya ambisi dan tetap berpijak di atas bumi.
Tavares menekankan bahwa atmosfer persaingan di kasta tertinggi Super League nanti akan terasa sangat berbeda dan jauh lebih berat jika dibandingkan dengan laga di ajang pramusim.
Ia mengingatkan bahwa meskipun gelar Piala Presiden adalah sejarah baru yang membanggakan, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana strategi Persebaya untuk mengakhiri puasa gelar liga selama 22 tahun terakhir.
Oleh karena itu, ia mengajak para pendukung untuk bersikap lebih realistis dan objektif dalam menilai peta kekuatan tim sekaligus kualitas rival yang akan dihadapi nanti, alih-alih buru-buru mengharap trofi liga.
Sang pelatih bercerita bahwa ia sering kali berpapasan dengan penggemar yang terus-menerus memberikan beban dengan tuntutan seperti, “Coach, harus juara!” atau “Coach, kita harus menang!”.
Merespons desakan itu, Tavares meminta dengan sangat agar para pendukung Bonek dan Bonita tidak membanding-bandingkan kekuatan Persebaya secara buta dengan tim-tim raksasa lainnya, seperti Persib, Persija, Dewa United, Bali United, hingga Bhayangkara.
Ia menjelaskan bahwa meski dirinya menaruh kepercayaan penuh pada kemampuan skuadnya, klub-klub rival tersebut jauh lebih diuntungkan oleh kekuatan finansial yang lebih besar, serta diberkahi dengan keleluasaan untuk merekrut pemain bintang.
“Anda perlu melihat tim mana saja yang mampu merekrut pemain tim nasional atau pemain yang pernah menjadi juara di liga lain, seperti di India, misalnya. Anda paham maksud saya? Lalu lihatlah kemampuan kita dalam merekrut pemain. Saya tidak bilang pemain kita tidak berkualitas. Bukan, bukan itu maksud saya. Yang ingin saya sampaikan adalah; tolong jangan berikan tekanan berlebih pada skuad kami,” kata Tavares.
Oleh karena itu, kenyataan inilah yang seharusnya disadari perbedaannya oleh para suporter dalam mengukur ekspektasi.
Namun, meski kondisinya demikian, Tavares tetap memastikan bahwa mentalitas pantang menyerah dan tekad untuk selalu menang sudah tertanam kuat serta telah mendarah daging di dalam benak anak asuhnya ketika turun di lapangan.
Ia pun turut meluruskan bahwa dirinya selama ini tidak pernah sekalipun mengumbar janji muluk soal trofi liga. Tavares bilang, di dalam filosofi melatihnya adalah selalu fokus untuk menyuguhkan permainan terbaik demi meraih poin penuh dan memenangkan setiap pertandingan yang ada di depan mata.
“Target saya adalah berusaha memenangkan pertandingan berikutnya. Anda tidak pernah mendengar saya bilang ingin jadi juara. Tidak pernah. Saya tidak pernah mengatakan hal itu. Kalau Anda membaca kabar seperti itu, itu bohong,” tegasnya.
Tavares justru khawatir jika tekanan berlebihan terkait target juara itu terus didengungkan, hal tersebut lambat laun akan menjadi bumerang yang menghancurkan mental bertanding para pemainnya.
Berangkat dari kekhawatiran itu, ia sangat berharap Bonek dan Bonita bisa konsisten memberikan dukungan moral, baik saat tim sedang berjaya maupun ketika sedang terpuruk.
Ia memohon kepada para suporter untuk berhenti meneriakkan tuntutan wajib juara setiap saat, mengingat gaya tekanan semacam itu sudah dicoba selama lebih dari dua dekade namun tak kunjung membuahkan hasil.
“Jangan terus-menerus menuntut, ‘Harus juara! Harus menang!’ Tolong, jangan lakukan itu kepada para pemain. Hal itu sudah dilakukan selama 22 tahun berturut-turut, dan lihatlah hasilnya. Oke?” tuturnya.
Menurutnya, pemain sepak bola yang menjadi anak asuhnya ini bukanlah mesin yang bisa diprogram untuk selalu tampil sempurna, sehingga kehadiran dan dukungan suporter justru akan terasa paling bermakna saat tim sedang menelan kekecewaan.
“Jika ingin membantu, cobalah dukung kami, dukunglah pemain saat mereka tampil bagus, dan terutama saat mereka tidak tampil bagus, karena mereka bukan mesin. Akan ada pertandingan di mana pemain A, B, atau C tidak tampil maksimal, atau mungkin seluruh tim tidak bermain bagus,” katanya.
Sebagai nakhoda Bajol Ijo, Tavares kembali menegaskan bahwa ambisi terbesarnya sebagai pelatih adalah menjaga fokus harian demi mempersiapkan tim sebaik mungkin dari satu laga ke laga lainnya.
Ia memungkasi pernyataannya dengan filosofi sederhana; ketimbang sekadar berangan-angan menjadi juara seperti halnya ambisi semua tim lain, ia lebih memilih mengerahkan seluruh energinya untuk mengamankan kemenangan di pertandingan terdekat.
“Target saya adalah berusaha tampil lebih baik di pertandingan berikutnya, berusaha memenangkan pertandingan berikutnya, itu saja,” pungkasnya. (rma/kun)
Link informasi : Sumber