Transformasi Topeng Malangan dalam Pentas Teater Neo-Walangwati Walangsumirang
Malang (beritajatim.com) – Kesenian tradisional terus mencari bentuk untuk berdialog dengan perubahan zaman. Upaya tersebut diwujudkan melalui pementasan Teater Topeng Malang bertajuk “Neo-Walangwati Walangsumirang” yang digelar pada Selasa (4/8/2026) malam di Taman Krida Budaya, Kota Malang.
Pertunjukan yang diproduksi oleh Ahmad Junaidi dan Ahmad Priyono ini disajikan secara gratis bagi masyarakat umum.
Manajer Produksi Ahmad Junaidi menyatakan bahwa pementasan ini merupakan ruang eksplorasi kreatif. Pihaknya berupaya mengadaptasi pakem Wayang Topeng Malang ke dalam bentuk teater topeng kontemporer.
“Berangkat dari khazanah tradisi Panji dan estetika Wayang Topeng Malang, proyek ini berupaya menghadirkan kembali seni pertunjukan tradisional melalui pendekatan dramaturgi, teater, dan bahasa visual yang lebih komunikatif bagi masyarakat masa kini,” kata Junaidi.
Ia menambahkan bahwa transformasi adalah sebuah keniscayaan. Pelestarian tradisi harus disertai kesadaran terhadap konteks zaman agar kesenian tersebut tidak sekadar menjadi artefak sejarah.
“Neo-Walangsumirang membedah potensi baru dari tradisi agar tetap hidup, relevan, dan mampu berdialog dengan perubahan zaman. Ruang kreatif ini diharapkan dapat menjadi langkah dalam merawat akar budaya melalui transformasi artistik, dengan tetap mengakomodasi nilai-nilai luhur yang penting untuk diwariskan,” jelasnya.
Pementasan yang disutradarai oleh Musthofa Kamal dengan Asisten Sutradara Shindu Dhohir Herlianto ini tidak sekadar menceritakan kisah dari masa lalu. Isu-isu yang diangkat difungsikan sebagai refleksi atas realitas kehidupan sosial masyarakat modern.
Dalam eksekusinya, pertunjukan ini menggabungkan tiga pendekatan estetik utama. Pendekatan pertama berakar pada Wayang Topeng Malangan yang memanfaatkan elemen topeng, tari, tembang, simbol, serta nilai spiritualitas. Kedua, pertunjukan ini meminjam elemen ludruk untuk menghadirkan humor, kritik sosial, dan kelugasan khas masyarakat Jawa Timur.
Pendekatan ketiga menggunakan metode teater epik (efek Bertolt Brecht). Penonton tidak hanya diajak larut dalam alur cerita, tetapi juga didorong untuk berpikir, mempertanyakan, dan merefleksikan persoalan kemanusiaan yang dipentaskan.
Pementasan ini sekaligus menjadi panggung penghormatan bagi almarhum Sutak Wardiono atau yang akrab disapa Ki Sutak. Naskah lakon Neo-Walangsumirang Walangwati merupakan naskah terakhir yang hampir diselesaikannya sebelum ia berpulang pada 28 Maret 2026.
“Ki Sutak dikenal luas sebagai seniman, budayawan, maestro tari, dan tokoh ludruk senior asal Malang yang mendedikasikan hidupnya untuk merawat seni tradisional. Semasa hidup, ia pernah menjabat sebagai Ketua Bidang di Sanggar Tari Senaputra dan Dewan Pakar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kota Malang,” kenang Ajun, sapaannya.
Ki Sutak juga tercatat sebagai salah satu pemeran dalam film independen lokal Darah Biru Arema. Selain menjadi penari dan guru tari, Ki Sutak merupakan pendiri Komunitas Kendo Kenceng. Kelompok ini fokus pada seni ludruk gaya Malangan yang dinamis dan kerap mengangkat tema sosial.
Beberapa karya penting yang pernah dipentaskannya meliputi Karsinah, Kari Siji Sing Genah, Poris Manap (2015), Dagelan Kendo Kenceng, serta Banting Setir yang dipentaskan secara daring sebagai respons terhadap pandemi. Kapasitasnya dalam penulisan naskah juga dibuktikan saat ia meraih penghargaan Penulis Naskah Terbaik dalam Festival Pertunjukan Rakyat (Pertura) Jatim Kominfo Festival 2019.
“Melalui naskah ini, Ki Sutak meninggalkan sebuah warisan pemikiran bahwa tradisi tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus hidup melalui pembacaan, dialog, dan penciptaan kembali,” papar Junaidi saat menyampaikan pengantar produksi.

Keberhasilan pementasan ini merupakan hasil kerja puluhan pekerja seni lintas disiplin. Di departemen penyutradaraan dan artistik, proses produksi didukung oleh Lutfi Petal sebagai Dramaturg, M. Harits Rendika sebagai Stage Manager, Ratna Siyem di posisi Penata Rias dan Kostum, Aka sebagai Penata Artistik, serta Acil sebagai Penata Cahaya.
Ragam gerak dan komposisi musik digarap secara spesifik oleh Tulus selaku Penata Tari dan M. Hafidh Fadli (Hafidh Tepeng) sebagai Penata Musik. Jajaran pemusik melibatkan Taqi, Din, Farhan, Fonta, Nando, Bagus, dan Dany. Sementara itu, jajaran penari diisi oleh Rifka, Hula, Fifi, Ramadhani, Rafgan, Afril, Yusuf, Dika, dan Andiko.
Jajaran aktor yang menghidupkan karakter di atas panggung meliputi Bhisma, Priska, Shindu, Romo Pambudi, Sholly, Tulus, Eko Ujang, Pepeng, Izza, Wowok, Fima, dan Daus.
Terselenggaranya acara ini juga didukung oleh ekosistem kolaboratif dari berbagai institusi.
Acara pementasan ini dapat berlangsung berkat Dana Indonesia Raya, program pendanaan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang didukung oleh LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) melalui pemanfaatan Dana Abadi Kebudayaan.
“Sajian ini adalah ruang perjumpaan antara tradisi, kreativitas, dan refleksi bersama mengenai kehidupan manusia. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para mitra kolaborator yang telah menyediakan fasilitas ruang serta menciptakan ekosistem kreatif selama proses penciptaan karya ini,” kata Junaidi menegaskan.
Kesan positif disampaikan oleh Duta Budaya Kota Malang 2025, Pandu Sabut Raduinanda, yang turut hadir menyaksikan pementasan tersebut. Ia mengapresiasi tinggi upaya regenerasi seni tradisi agar tetap menarik minat generasi muda.
“Tentunya saya sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini. Kita ketahui bersama bahwa Gen Z saat ini banyak yang menyukai budaya asing. Pementasan ini menjadi contoh bagi generasi muda untuk senantiasa mencintai budaya, khususnya Topeng Malangan yang merupakan identitas Malang Raya,” ujar Pandu.
Menurutnya, pementasan Teater Topeng Malangan ini memberikan banyak pesan moral bagi para penonton, terutama mengenai pentingnya komunikasi dan menjaga kelestarian warisan leluhur.
“Banyak pelajaran yang kita dapat, salah satunya pentingnya mengomunikasikan segala hal agar terstruktur dengan baik. Selain itu, kita harus senantiasa melestarikan kebudayaan di Malang Raya agar tidak hilang tergerus zaman,” tutupnya seraya mengajak Gen Z untuk lebih peduli terhadap seni tradisi lokal. (dan/kun)
Link informasi : Sumber