UINSA dan University of Canberra Perkuat Kemitraan Internasional melalui Program Joint Master’s Degree

0

Surabaya (beritajatim.com) — Peluang mahasiswa Indonesia untuk meraih gelar magister bertaraf internasional semakin terbuka. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya bersama University of Canberra, Australia, resmi menjalin kemitraan akademik melalui Program Joint Master’s Degree Pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman belajar lintas negara dan budaya.

Momentum tersebut ditandai melalui kegiatan bertajuk Celebrating Shared Success yang diselenggarakan Konsulat Jenderal Australia di Surabaya. Acara ini menjadi simbol penguatan hubungan pendidikan antara Indonesia dan Australia sekaligus menandai dimulainya kerja sama Program Joint Master’s Degree Pendidikan Bahasa Inggris antara UINSA dan University of Canberra.

Program magister bersama ini merupakan inisiasi dari Rektor Pelaksana UINSA, Prof. Akh. Muzakki, yang juga merupakan alumnus perguruan tinggi di Australia. Gagasan tersebut lahir dari semangat memperluas akses pendidikan internasional bagi mahasiswa Indonesia, khususnya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris.

Dalam sambutannya, Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew, menegaskan bahwa sektor pendidikan menjadi salah satu fondasi utama dalam hubungan bilateral Indonesia dan Australia yang terus berkembang.

“Konjen Australia di Surabaya mendukung penuh program Joint Master’s Degree antara UINSA dan University of Canberra. Inisiatif ini sangat strategis dalam mempersiapkan profesional yang memiliki daya saing global, memperkaya pengalaman lintas budaya, sekaligus memperluas peluang karier bagi para lulusannya,” ujar Glen Askew, di Oakwood Hotel & Residence Surabaya, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, kerja sama pendidikan tidak hanya memberikan manfaat akademik, tetapi juga memperkuat hubungan antarmasyarakat kedua negara. Melalui interaksi lintas budaya dan pertukaran pengetahuan, mahasiswa akan memiliki perspektif yang lebih luas dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan perkembangan global.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Akh. Muzakki menekankan bahwa kolaborasi internasional merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi kemajuan pendidikan tinggi Indonesia.

“Kolaborasi internasional bukan sekadar kerja sama antar institusi. Lebih dari itu, ini merupakan investasi jangka panjang untuk membangun generasi akademisi dan profesional yang memiliki wawasan global serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.

Ia pun menjelaskan bahwa sebanyak 70% biaya kuliah dan biaya hidup selama di Australia ditanggung oleh pemerintah Australia, sementara pemerintah Indonesia melalui LPDP mendukung sebesar 30%. Adapun untuk tahun ini, kuota yang disediakan adalah sebanyak 8 orang.

Proses seleksi program ini mengikuti persyaratan dari LPDP dan University of Canberra. Selain harus memenuhi standar minimum IELTS, para kandidat wajib lolos tes psikologi (personal endurance atau ketahanan mental).

“Ketahanan psikologis ini menjadi poin krusial; bahkan ada kandidat dengan skor IELTS 7,5 yang tidak lulus karena ketahanan mentalnya diragukan, sementara kandidat dengan skor 5,5 bisa lulus karena memiliki mental yang kuat untuk hidup mandiri di Australia,” ungkapnya.

Ia berharap program ini dapat menjadi model kerja sama akademik internasional yang berkelanjutan dan memberikan manfaat langsung bagi mahasiswa, dosen, maupun pengembangan institusi.

Sementara itu, pihak University of Canberra secara terpisah juga menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kemitraan tersebut. Universitas yang berbasis di ibu kota Australia itu menyatakan komitmennya untuk terus mendukung penyelenggaraan pendidikan berkualitas dan memperkuat kolaborasi akademik yang berkelanjutan bersama UINSA.

Kerja sama ini juga sejalan dengan arah kebijakan pendidikan tinggi kedua negara. Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi Australia, Jason Clare MP, dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, telah menandatangani nota kesepahaman yang menegaskan pentingnya penguatan kerja sama pendidikan sebagai salah satu pilar utama kemitraan Australia–Indonesia.

Data menunjukkan bahwa minat mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi di Australia terus meningkat. Pada 2025, tercatat sekitar 25 ribu mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi Australia. Angka tersebut mencerminkan kuatnya hubungan akademik antara kedua negara serta tingginya kepercayaan terhadap kualitas pendidikan Australia. (fyi/ted)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.