Lomba Nasi Goreng di Ponorogo, Warga Mayak Adu Rasa Sambil Bergaya Unik

0

Ponorogo (beritajatim.com) – Lomba memasak biasanya identik dengan peserta yang mengenakan pakaian layaknya koki profesional. Namun, pemandangan berbeda terlihat di Lingkungan Mayak, Kelurahan Tonatan, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo. Puluhan warga justru tampil dengan kostum unik saat mengikuti lomba memasak nasi goreng untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Sebanyak 40 peserta yang terbagi dalam 20 tim ambil bagian dalam lomba tersebut. Mereka tidak sekadar dituntut menghasilkan nasi goreng dengan cita rasa terbaik. Kostum yang dikenakan peserta juga menjadi bagian dari keseruan dalam perlombaan.

Ada peserta yang mengenakan pakaian bernuansa pejuang kemerdekaan. Sebagian lainnya tampil dengan pakaian adat, kostum ala Charlie Chaplin, hingga busana lawasan. Penampilan tersebut membuat suasana perlombaan semakin meriah dan mengundang perhatian warga yang datang menyaksikan.

Setiap tim mendapat tantangan memasak nasi goreng dalam jumlah cukup banyak. Satu tim harus mengolah satu ceting atau setara lima piring nasi goreng dalam sekali masak. Waktu memasak yang terbatas membuat peserta harus cekatan menyiapkan bahan, bumbu, hingga peralatan.

Sejumlah peserta terlihat sudah mempersiapkan perlengkapan memasak layaknya chef profesional. Namun, tidak sedikit pula yang terlihat canggung saat berhadapan dengan wajan dan kompor. Bahkan, proses memasak beberapa peserta berlangsung cukup berantakan karena harus mengolah nasi goreng dalam jumlah besar.

Tantangan lain datang dari lokasi perlombaan yang digelar di ruang terbuka. Angin cukup kencang membuat api kompor beberapa peserta sulit dikendalikan. Kondisi itu membuat proses memasak nasi goreng semakin seru. Sebab peserta harus mencari cara agar masakannya tetap matang dengan sempurna.

Lurah Tonatan Agus Subagyo mengatakan, lomba tersebut memang tidak semata-mata ditujukan untuk mencari pemenang. Kegiatan itu dibuat sebagai sarana hiburan sekaligus menjaga kebersamaan warga Lingkungan Mayak.

“Ini untuk seru-seruan saja, jadi untuk juaranya itu tidak usah dipermasalahkan, ini buat seru-seruan saja untuk mengisi biar masyarakat Mayak guyub,” kata Agus, Minggu (9/8/2026).

Menurutnya, memasak bersama menjadi salah satu cara sederhana untuk mempertemukan warga dalam suasana yang santai. Apalagi momentum peringatan Kemerdekaan RI tidak hanya diisi dengan perlombaan. Kebersamaan dan kerukunan warga juga menjadi bagian penting dalam perayaan tersebut.

Setelah waktu perlombaan berakhir, setiap tim menyerahkan sebagian nasi goreng kepada dewan juri. Masakan tersebut kemudian dinilai untuk menentukan pemenang perlombaan. Sementara nasi goreng lainnya dinikmati bersama oleh warga dan penonton dengan alas daun pisang.

Salah satu peserta, Atin Nurcahyo, mengatakan lomba nasi goreng sudah menjadi kegiatan yang rutin digelar setiap tahun. Antusiasme warga juga cukup tinggi karena peserta yang mengikuti perlombaan terbilang ramai. Tahun ini, peserta juga diminta menampilkan kostum bertema kemerdekaan yang unik dan berbeda.

“Melakukan lomba nasi goreng itu memperingati ulang tahun kemerdekaan Indonesia, kita melakukan lomba nasi goreng itu biasa kita lakukan untuk setiap tahun dengan peserta yang lumayan ramai tadi,” ungkap Atin.

Atin sendiri memilih mengenakan kostum bernuansa lawasan. Menurutnya, keseruan perlombaan justru terletak pada kebersamaan warga, bukan sekadar mengejar gelar juara.

“Seru banget untuk juara tidak masalah yang penting merayakan,” katanya.

Selain memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, kegiatan tersebut juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi. Warga dari berbagai usia dapat berkumpul tanpa sekat dalam satu kegiatan. Semangat kemerdekaan pun dirayakan bukan hanya melalui lomba, tetapi juga dengan menjaga kerukunan dan kebersamaan di lingkungan. (end/but)

 

 


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.