Aksi “Sebat Bareng” 16 Kota: Menjaga Kretek sebagai Warisan Budaya Nusantara
Yogyakarta (beritajatim.com)- World Health Organization (WHO) memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) dengan tema “Unmasking the appeal – countering nicotine and tobacco addiction.”
Tema ini menyoroti dugaan bahwa industri tembakau dan nikotin terus mengemas produknya agar terlihat menarik, terutama bagi anak-anak dan remaja.
Komunitas Kretek dan Komite Nasional Kretek menilai narasi tersebut perlu dibaca secara lebih kritis, terutama dalam konteks Indonesia. Kretek tidak bisa disamakan begitu saja dengan produk tembakau global. Kretek lahir dari sejarah panjang masyarakat Indonesia. Di dalamnya ada tembakau, cengkeh, petani, buruh linting, pedagang kecil, dan jutaan orang yang hidup dari Industri Hasil Tembakau (IHT).
“Tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini perlu dibaca secara kritis. WHO menuduh industri tembakau terus menciptakan daya tarik baru, terutama kepada anak-anak dan remaja. Padahal, dalam konteks Indonesia, industri hasil tembakau sudah lama berada di bawah regulasi yang sangat ketat. Kalau masih ada pelanggaran di lapangan, maka yang harus diperkuat adalah pengawasan negara, bukan terus-menerus menjadikan kretek dan ekosistem IHT sebagai sasaran pukul,” ujar Khoirul Atfifudin, Juru Bicara Komunitas Kretek, Minggu (31/5/2026) dalam siaran persnya.
Menurutnya, tuduhan bahwa industri tembakau terus menarik konsumen anak juga tidak bisa dijadikan alasan untuk terus menekan IHT. Selama ini, industri hasil tembakau telah berada di bawah regulasi yang sangat ketat. Iklan dibatasi, promosi diawasi, kemasan diwajibkan memuat peringatan kesehatan bergambar, dan aturan usia pembelian telah ditetapkan. Jika masih ditemukan perokok anak atau pelanggaran di lapangan, maka persoalannya ada pada lemahnya pengawasan negara.
“Negara tidak bisa terus-menerus menambah tekanan kepada industri, sementara fungsi pengawasan di lapangan tidak dijalankan dengan serius. Industri diminta patuh pada regulasi. Petani dan buruh ikut menanggung dampaknya. Pedagang kecil ikut tertekan. Namun ketika penerimaan cukai dibutuhkan, negara tetap menikmati hasilnya,” ujar Khoirul.
Karena itu, ia menambahkan, narasi WHO tentang “membongkar daya tarik” produk tembakau tidak boleh diterima mentah-mentah. Dalam konteks Indonesia, persoalan ini menyangkut hidup jutaan rakyat. Jika yang dipersoalkan adalah akses anak terhadap rokok, maka negara harus memperkuat pengawasan. Bukan menjadikan kretek dan seluruh ekosistem IHT sebagai sasaran pukul yang terus-menerus dilemahkan.
“Rumah Kretek Indonesia melihat bahwa agenda anti-tembakau global tidak sepenuhnya lepas dari kepentingan ekonomi. Di saat produk tembakau terus ditekan, produk pengganti nikotin seperti Nicotine Replacement Therapy justru diberi ruang sebagai solusi. Publik seolah diajak keluar dari tembakau, tetapi tetap diarahkan kepada produk nikotin berbasis farmasi. Artinya, perdebatan ini tidak sesederhana soal kesehatan. Ada perebutan pasar nikotin yang perlu dibaca secara jernih,” papar Khoirul.
Sebagai respons atas narasi tersebut, Komunitas Kretek, Komite Nasional Pelestarian Kretek, dan Rokok Indonesia menggelar agenda “Sebat Bareng” di berbagai daerah. Agenda ini dilaksanakan bersamaan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia sebagai bentuk penolakan terhadap kampanye global yang terus menyudutkan kretek.
“Sebat Bareng adalah cara sederhana untuk bersuara. Masyarakat berkumpul, menyalakan kretek, berdiskusi, dan mengingatkan kembali bahwa kretek adalah bagian dari sejarah, kebudayaan, dan ekonomi rakyat Indonesia. Agenda ini juga menjadi pengingat kepada negara agar tidak hanya hadir saat memungut cukai, tetapi juga hadir saat petani, buruh, pedagang kecil, dan seluruh ekosistem IHT terancam.
“Sebat Bareng adalah cara kami merespons narasi global yang terlalu mudah menyudutkan tembakau dan kretek. Di Indonesia, kretek punya sejarah, punya akar budaya, dan menghidupi jutaan orang. Maka negara tidak bisa hanya hadir saat memungut cukai, tetapi abai saat rakyat tembakau ditekan oleh kampanye global. Sebab, untuk menjadi nyaring, kita perlu menjadi banyak,” ujar Alfianaja Maulana, Juru Bicara Komite Nasional Pelestarian Kretek.
Sebat Bareng akan digelar di 16 titik di Indonesia, yaitu Temanggung, Magelang, Wonosobo, Semarang, Kudus, Rembang, dan Purbalingga (Jawa Tengah), Sleman (Yogyakarta), juga di Bandung dan Garut ( Jawa Barat), lalu di Nganjuk, Jember, Pamekasan, Situbondo, dan Sumenep (Jawa Timur), serta Lombok (Nusa Tenggara Barat).
Melalui Sebat Bareng, Komunitas Kretek danKomite Nasional Pelestarian Kretek menyerukan agar pemerintah tidak ikut-ikutan merayakan Hari Tanpa Tembakau Sedunia secara membabi buta. Indonesia punya kretek. Indonesia punya petani tembakau dan cengkeh. Indonesia punya buruh linting. Indonesia punya pedagang kecil. Indonesia juga masih bergantung pada penerimaan cukai hasil tembakau.
“Maka, yang dibutuhkan Indonesia hari ini adalah sikap yang adil. Pemerintah tidak perlu menelan mentah-mentah narasi global yang tidak memahami kehidupan rakyat tembakau di bawah,” tandasnya.[*/aje]
Link informasi : Sumber