Fashionology 2026, Mahasiswa Universitas Ciputra Ubah Limbah Jadi Karya Busana

0

Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengubah sisa material produksi hingga isu kesehatan mental menjadi karya busana. Puluhan desain ini tersaji dalam pameran tugas akhir Fashionology 2026.

Pameran tersebut berlangsung di Ciputra World Surabaya pada 5 hingga 7 Juni 2026. Mahasiswa semester delapan Program Studi Fashion Product Design and Business memamerkan pakaian siap pakai.

Ketua Program Studi Fashion Product Design and Business UC Surabaya, Yoanita Kartika Sari Tahalele, menjelaskan pameran ini adalah bentuk penyelesaian masalah lewat desain.

“Ini adalah wujud kreativitas, inovasi, dan bagaimana mereka mencoba menyelesaikan masalah di masyarakat dalam bentuk produk fashion,” kata Yoanita, Sabtu (6/6/2026).

Mahasiswa membedah berbagai permasalahan sosial lalu meramunya menjadi ide pakaian. Berbagai limbah seperti sisa potongan kain, plastik, botol kaca, hingga denim tak terpakai berhasil diolah ulang.

“Kali ini kita mengangkat tiga tema besar, yaitu pengolahan limbah, isu kesehatan mental generasi Z, dan budaya atau wastra,” ujarnya.

Salah satu desainer muda, Florencia Giovanna Hadisaputro, merancang busana dari sisa kain produksi. Ia memakai teknik pengerasan resin untuk membentuk detail tiga dimensi pada pakaian monokromnya.

Sementara itu, Aurelia Theodora Tanoto mendaur ulang sisa kain denim dari pabrik. Ia memadukan teknik jahit tanpa sambungan dan pewarnaan ulang untuk menciptakan pakaian elegan bernilai tinggi.

Karya lain datang dari Jocelin Clementine yang merepresentasikan gangguan skizofrenia paranoid. Desain bajunya memiliki potongan asimetris dan motif mata sebagai simbol rasa gelisah serta kewaspadaan berlebih.

Tema budaya kental terasa lewat karya Elaine Budiono. Ia mengadaptasi ornamen arsitektur Klenteng Cu An Kiong Lasem menjadi desain bordir manual pada koleksi busananya.

Langkah serupa dilakukan Muhammad Atho’illah yang memadukan tren hip hop jalanan dengan sisa kain batik Mojokerto. Strategi ini sekaligus menghidupkan ekonomi perajin Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Pameran ini bukan semata peragaan busana biasa. UC Surabaya sengaja mengundang mitra industri dan desainer profesional untuk memantau langsung potensi para mahasiswa.

“Mitra industri menjadikan pameran ini sebagai ajang wawancara. Beberapa mahasiswa bahkan sudah mendapat pekerjaan setelah perusahaan melihat karya mereka,” ungkap Yoanita.

Selain memamerkan karya, para mahasiswa harus melayani pengunjung selama tiga hari penuh. Mereka wajib memiliki merek dagang sendiri dan siap terjun berbisnis secara mandiri.

“Mereka langsung terjun di dunia bisnis. Mereka harus secara holistik mempunyai merek yang siap dijual setelah lulus,” pungkasnya.

Ajang pameran ini juga melibatkan lima kampus luar negeri. Mahasiswa dari Tiongkok, Taiwan, Inggris, Australia, dan Malaysia turut memamerkan puluhan koleksi pakaian terbaik mereka di Surabaya. [ipl/kun]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.