Spektakuler! 1.200 Santri dan Guru Meriahkan 100 Tahun Pondok Gontor Lewat Darussalam All Star Show
Ringkasan Berita:
- Lebih dari 1.200 santri dan guru Pondok Modern Darussalam Gontor terlibat dalam Darussalam All Star Show (DASS) pada peringatan 100 tahun Gontor.
- Pertunjukan kolosal yang dipersiapkan selama tiga minggu ini memadukan drama, musik, tari, dan seni budaya Nusantara hingga mancanegara.
- Pimpinan Gontor menegaskan DASS sebagai hasil pendidikan karakter, kemandirian, dan proses pembentukan manusia untuk masa depan jangka panjang.
Ponorogo (beritajatim.com) – Rangkaian peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) berlangsung meriah dan spektakuler melalui gelaran Darussalam All Star Show (DASS) di Lapangan Pondok Modern Darussalam Gontor, Sabtu malam (27/6/2026).
Lebih dari 1.200 santri dan guru terlibat dalam pertunjukan kolosal yang memadukan drama, musik, tari, hingga seni budaya Nusantara dan mancanegara, menjadikannya salah satu momentum bersejarah dalam perjalanan satu abad Gontor.
Acara ini tidak sekadar menjadi pertunjukan seni, tetapi juga representasi pendidikan karakter yang selama ini menjadi ciri khas Pondok Modern Darussalam Gontor. Ribuan penonton disuguhi ragam penampilan yang menunjukkan bahwa proses pendidikan di pesantren ini berlangsung menyeluruh, tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga di ruang kreativitas dan kolaborasi.
Persiapan Darussalam All Star Show dilakukan secara intensif selama kurang lebih tiga minggu. Ratusan panitia bersama para santri dan guru bekerja sama menyiapkan seluruh aspek pertunjukan, mulai dari penampilan, sarana dan prasarana, hingga berbagai properti pendukung. Proses panjang ini menjadi bagian dari pendidikan karakter, terutama dalam membangun disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab.
Ketua DASS Al-Ustadz Hasan Mutagin mengatakan, lebih dari 1.200 santri dan guru terlibat dalam penyelenggaraan acara dengan pembagian tugas yang terstruktur. Menurutnya, seluruh proses yang dijalani para santri bukan sekadar untuk menghasilkan pertunjukan, tetapi juga sebagai media pembentukan kepribadian.
“Jumlahnya lebih dari 1.200 santri dan guru. Mereka sudah merencanakan acara ini kurang lebih selama tiga minggu. Ada yang mempersiapkan penampilan, sarana dan prasarana, properti, dan lainnya dengan penuh keyakinan bahwa semua itu membentuk kepribadian dan karakter mereka,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa setiap proses yang dijalani santri memiliki nilai pendidikan yang jauh lebih penting dari sekadar hasil akhir pertunjukan. Seluruh aktivitas tersebut menjadi latihan nyata dalam membangun kedisiplinan, tanggung jawab, dan keikhlasan sebagai fondasi utama pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor.
“Kami yakini setiap gerak, nada, karya, dan tetes jerih payah santri maupun guru adalah proses pendidikan yang membentuk karakter, kepribadian, kedisiplinan, dan juga keikhlasan,” katanya.
Mewakili panitia, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor atas kepercayaan yang diberikan kepada santri dan guru dalam menyelenggarakan acara tersebut. Menurutnya, amanah ini menjadi ruang belajar penting dalam berorganisasi dan bekerja sama.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor karena telah memberikan amanah kepada kami untuk belajar berorganisasi, bekerja sama, dan bersinergi dalam menyelenggarakan Darussalam All Star Show pada peringatan 100 tahun Gontor,” ujarnya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Hasan Abdullah Sahal, mengungkapkan bahwa dirinya telah mengikuti berbagai momentum penting perjalanan Gontor sejak puluhan tahun lalu, mulai dari peringatan 40 tahun hingga kini memasuki usia satu abad.
“Saya mengikuti peringatan 40 tahun Pondok Gontor pada 1966. Kemudian mengikuti setengah abad, lalu 70 tahun, 80 tahun, dan kini 100 tahun,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa apa yang ditampilkan dalam Darussalam All Star Show hanyalah sebagian kecil dari proses pendidikan di Gontor. Menurutnya, panggung tersebut bukan tujuan akhir, melainkan cerminan dari pembentukan manusia untuk masa depan jangka panjang.
“Maka acara ini jujur keterlibatan kami hanya 5 persen, karena anak-anak ini sudah dibentuk untuk 200 tahun yang akan datang,” tegasnya.
Kiai Sahal juga menekankan bahwa seluruh penyelenggaraan DASS merupakan hasil kemandirian Pondok Modern Darussalam Gontor. Mulai dari penyelenggara, pengisi acara, hingga sebagian besar fasilitas berasal dari lingkungan pondok sendiri.
“Dari penyelenggaraannya, penampilanya, dan fasilitas-fasilitasnya 95 sampai 99 persen semuanya dari dalam Pondok Modern Darussalam, semua alat-alat yang ada milik PMDG. Ini semua bukan untuk takabur tapi untuk tasyakur” ujarnya.
Sepanjang pertunjukan, ribuan penonton disuguhi berbagai penampilan yang menggambarkan kekayaan budaya, kreativitas, dan nilai-nilai pendidikan Gontor. Mulai dari drama Untung Ada Pesantren, Pelita Madani, Kehidupan Mengajariku, Keikhlasan, Khidmah, hingga Ini Abadi, serta beragam seni seperti Gontor Voice, paduan suara, keroncong, campursari, hingga tarian daerah dan mancanegara.
Beragam seni budaya seperti Zapin Ombak Bertuah, Riak Jagat Pasundan, Raqs Arabian, Tari Ratoeh Jaroe, Topeng Ireng, Reog 100 Tahun, Gontor Bollywood Century, hingga Zon Zero turut memeriahkan panggung, menegaskan semangat kolaborasi dan pendidikan karakter yang menjadi ciri khas Pondok Modern Darussalam Gontor selama satu abad pengabdiannya. [end/suf]
Link informasi : Sumber