Air Waduk dan Embung Lamongan Masih Cukup untuk Pertanian di Musim Kemarau

0

Lamongan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Lamongan memastikan ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian masih relatif mencukupi di tengah musim kemarau 2026.

Berdasarkan data Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Lamongan, hingga Agustus 2026 tersedia 504.101,48 meter kubik air baku. Sementara itu, 44 waduk dan rawa di Lamongan memiliki total tampungan sekitar 116,38 juta meter kubik.

Dari jumlah tersebut, sekitar 80,4 juta meter kubik atau 70 persen telah digunakan. Sedangkan sekitar 35,9 juta meter kubik atau 30 persen masih tersisa.

Ketersediaan tersebut masih mampu mendukung kebutuhan irigasi, terutama untuk sektor pertanian. Pengelolaan air saat ini diarahkan untuk mengairi sekitar 19.059 hektare tanaman padi, yang terdiri dari 16.021 hektare pada Musim Tanam (MT) II dan 3.038 hektare pada MT III, serta digunakan untuk mendukung sekitar 5.314 hektare tanaman palawija.

Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi l, mengatakan pemerintah daerah akan terus memperkuat mitigasi kekeringan agar kebutuhan masyarakat dan pertanian tetap terpenuhi.

Menurutnya, upaya tersebut dilakukan melalui pembangunan dan revitalisasi infrastruktur sumber daya air, seperti embung, waduk, serta pengembangan biopori untuk konservasi air.

“Target kerja harus dipertajam. Penanganan kekeringan di wilayah Sarirejo dan Tikung masih bersifat penyelesaian sementara,” kata Yuhronur, Kamis (10/9/2026).

Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu menegaskan, pengelolaan air harus dilakukan secara berkelanjutan. Sebab, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan Lamongan.

“Tantangannya adalah bagaimana kita mengelola air ketika musim hujan, sekaligus memastikan ketersediaannya saat musim kemarau,” ujarnya.

Untuk menjaga pasokan air, Pemkab Lamongan juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Perum Jasa Tirta, serta Dinas PU Sumber Daya Air Provinsi Jawa Timur.

Koordinasi dilakukan melalui pemeliharaan sluis di sepanjang Bengawan Solo, normalisasi sungai, hingga pengelolaan long storage untuk mendukung kebutuhan irigasi.

“Selain itu, kita lakukan pula subsidi silang antardaerah irigasi serta pengelolaan air bersama juru pengamat dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A),” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas PU Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Lamongan, Erwin Sulistya Pambudi, mengatakan, kondisi air di waduk, rawa, dan embung masih cukup untuk memenuhi kebutuhan irigasi. Namun, pengaturan distribusi air tetap harus dilakukan secara cermat karena kondisi kemarau masih dapat berubah.

“Secara umum untuk kebutuhan irigasi di Lamongan masih relatif mencukupi. Tetapi tentu kita tetap harus melakukan pengelolaan dan pengaturan distribusi air dengan baik, karena kita tidak tahu bagaimana kondisi kemarau ke depan,” ujar Erwin.

Menurut Erwin, ketersediaan air tidak hanya ditentukan oleh jumlah volume, tetapi juga kemampuan mendistribusikannya ke wilayah yang membutuhkan.

“Yang paling penting adalah bagaimana air yang tersedia ini bisa kita kelola secara optimal. Mulai dari sumber air, jaringan irigasi, sampai distribusinya kepada petani,” jelasnya.

Pemantauan terhadap waduk, rawa, sungai, dan jaringan irigasi pun terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi kekurangan air. Pengelolaan tersebut melibatkan berbagai pihak agar kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian tetap terlayani selama musim kemarau. (fak/aje)


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.