JKN Jadi Andalan Keluarga, Edy Tetap Lanjutkan Kepesertaan Setelah Pensiun

0

Ringkasan Berita

Edy Kadarisman memilih melanjutkan kepesertaan JKN secara mandiri setelah memasuki masa pensiun.

Ia merasakan manfaat JKN ketika istrinya menjalani operasi dan anaknya mendapat perawatan di rumah sakit.

Edy menilai kepesertaan aktif penting sebagai persiapan menghadapi kebutuhan kesehatan keluarga.

Kemudahan layanan digital dan penggunaan NIK turut diapresiasi Edy.

Kediri (beritajatim.com) – Masa pensiun tidak membuat Edy Kadarisman (60) menghentikan kepesertaannya dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Setelah tidak lagi menjadi peserta dari segmen Pekerja Penerima Upah (PPU), mantan dosen Universitas Islam Kadiri (Uniska) tersebut memilih melanjutkan kepesertaan JKN secara mandiri untuk dirinya dan sang istri.

Keputusan itu diambil berdasarkan pengalaman Edy selama menjadi peserta JKN. Ia mengaku telah merasakan manfaat program tersebut ketika dirinya maupun anggota keluarganya membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Sebelum pensiun, saya masuk segmen Pekerja Penerima Upah (PPU). Otomatis, saya mendapatkan jaminan kesehatan JKN yang iurannya dibayarkan oleh kantor. Setelah pensiun, kepesertaan saya tidak lagi ditanggung. Akhirnya, saya mengaktifkan kembali kepesertaan JKN secara mandiri,” jelas Edy saat dijumpai di Kediri.

Bagi Edy, beralih menjadi peserta mandiri merupakan bentuk antisipasi menghadapi kebutuhan kesehatan setelah memasuki usia pensiun. Ia memilih tetap memiliki perlindungan kesehatan karena kebutuhan pelayanan medis dapat muncul sewaktu-waktu.

“Karena selama ini saya sudah merasakan sendiri besarnya manfaat Program JKN, setelah pensiun saya memutuskan untuk melanjutkan kepesertaan secara mandiri, untuk saya dan istri. Sementara itu, anak-anak sudah memiliki kepesertaan JKN yang ditanggung oleh kantor masing-masing,” pungkasnya.

Istri Operasi, Biaya Mandiri Capai Rp30 Juta

Salah satu pengalaman yang memperkuat keyakinan Edy terhadap pentingnya kepesertaan JKN terjadi ketika istrinya harus menjalani operasi akibat kista dan miom.

Saat itu, Edy sempat menanyakan kepada dokter mengenai perkiraan biaya apabila tindakan medis tersebut harus ditanggung secara pribadi. Dari informasi yang diperolehnya, biaya mandiri diperkirakan mencapai sekitar Rp30 juta.

“Selama ini ya Alhamdulillah begitu banyak manfaat dari JKN. Apalagi istri saya pernah masuk rumah sakit dan harus operasi. Jadi saya bertanya kepada dokter seumpama saya bayar sendiri secara mandiri kira-kira berapa. Ternyata untuk biaya mandiri sekitar Rp30 juta,” terangnya.

Pengalaman tersebut membuat Edy semakin memahami arti penting jaminan kesehatan. Menurutnya, kepesertaan JKN menjadi salah satu bentuk persiapan menghadapi risiko kesehatan yang tidak selalu dapat diprediksi.

Pengalaman serupa juga dialami ketika anaknya harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gambiran. Sang anak mengalami gangguan asam lambung hingga muntah darah dan harus menjalani rawat inap selama beberapa hari.

Dari pengalaman tersebut, Edy merasa kepesertaan JKN memberikan manfaat bagi keluarganya ketika membutuhkan pelayanan kesehatan.

“Saya bersyukur Program JKN ini sangat bermanfaat untuk semua masyarakat terutama yang sudah menjadi peserta aktif. Saya sebagai penerima manfaat ini sangat berterima kasih. Mudah-mudahan pelayanan dari Program JKN selalu meningkat,” tuturnya.

Apresiasi Kemudahan Layanan JKN

Selain manfaat pelayanan kesehatan, Edy juga mengapresiasi perkembangan administrasi kepesertaan JKN. Menurutnya, akses layanan kini semakin praktis dengan pemanfaatan identitas kependudukan dan layanan digital.

Jika sebelumnya peserta lebih mengandalkan kartu kepesertaan fisik, kini NIK pada KTP dapat dimanfaatkan untuk mengakses layanan sesuai ketentuan. Peserta juga dapat menggunakan kartu digital melalui aplikasi Mobile JKN.

“Sekarang layanan JKN semakin mudah dan canggih. Tidak perlu lagi membawa kartu, cukup menunjukkan KTP karena di dalamnya sudah tercantum NIK yang dapat digunakan untuk mengakses layanan kesehatan. Selain itu, peserta juga bisa menunjukkan kartu digital yang tersedia di Aplikasi Mobile JKN,” terangnya.

Bagi Edy, kemudahan tersebut membuat peserta lebih praktis ketika membutuhkan layanan. Ia berharap perkembangan pelayanan dan teknologi JKN terus diikuti dengan peningkatan kualitas layanan bagi peserta.

JKN sebagai Bentuk Antisipasi

Pengalaman keluarga menjadi alasan Edy mempertahankan kepesertaan JKN meski sudah memasuki masa pensiun. Ia melihat program tersebut bukan hanya sebagai kewajiban administratif, tetapi juga bentuk perlindungan untuk menghadapi ketidakpastian kebutuhan kesehatan.

Ia juga memandang prinsip gotong royong menjadi bagian penting dalam Program JKN. Peserta yang sehat turut berkontribusi agar sistem jaminan kesehatan dapat memberikan manfaat kepada peserta lain yang sedang membutuhkan pelayanan.

“Ini merupakan program yang sangat bermanfaat. Melalui mekanisme subsidi silang, peserta yang sehat turut membantu mereka yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan. Kita tentu tidak mengharapkan sakit, tetapi perlu mempersiapkan diri sebagai bentuk antisipasi. Sebab, sebagai manusia, kita tidak pernah lepas dari kemungkinan mengalami gangguan kesehatan. Selama kepesertaan JKN tetap aktif, biaya pelayanan kesehatan dapat ditanggung melalui program JKN,” tutup Edy.

Bagi peserta yang memasuki masa pensiun, pengalaman Edy menunjukkan pentingnya memastikan status kepesertaan JKN tetap aktif dan memahami pilihan segmen kepesertaan yang sesuai. Dengan perlindungan yang tetap berjalan, kebutuhan kesehatan keluarga dapat dipersiapkan sejak sebelum risiko muncul. [nm/aje]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.