Atasi Kepadatan Muzdalifah, Kemenhaj Berangkatkan Jemaah Risti Langsung ke Mina Lewat Skema Murur

0

Makkah (beritajatim.com) – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mematangkan skema murur bagi jemaah haji Indonesia kategori risiko tinggi (risti) dan lanjut usia (lansia) agar langsung diberangkatkan menuju Mina tanpa harus turun dan mabit di Muzdalifah. Langkah taktis ini diambil untuk mengurai kepadatan di wilayah Masyair sekaligus melindungi kondisi fisik jemaah yang rentan menjelang puncak haji 1447 H/2026 M.

Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, Puji Raharjo, menjelaskan kebijakan ini didasari oleh keterbatasan ruang geografis di hamparan Muzdalifah.

Saat ini, pergerakan massal 168.106 jemaah Indonesia yang telah memadati Kota Makkah memerlukan rekayasa lalu lintas bus yang presisi demi mencegah kelelahan kronis akibat paparan suhu ekstrem 43 derajat Celsius.

Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, skema ini mewajibkan jemaah risti menaiki bus dari Padang Arafah setelah pelaksanaan wukuf dan langsung melintas menuju tenda Mina.

Skema ini secara masif disosialisasikan kepada para ketua kloter, pembimbing ibadah, serta perwakilan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) di 10 sektor Makkah.

“Karena keterbatasan space di Muzdalifah, nanti sebagian jemaah kita yang risiko tinggi, lansia, punya komorbid dan pendampingnya akan langsung kita bawa ke Mina,” kata Puji Raharjo di Makkah.

Ia menambahkan bahwa jemaah tidak perlu lagi tertahan hingga larut malam di ruang terbuka Muzdalifah. “Ini yang mereka tidak harus turun di Muzdalifah dan tidak harus menunggu tengah malam untuk melewati Muzdalifah,” ujarnya.

Mitigasi Kendala Lapangan dan Safari Wukuf

Sebaliknya, jemaah yang berada dalam kondisi fisik sehat dan bugar tetap diwajibkan menjalani mabit normal di Muzdalifah. Mereka akan dievakuasi menggunakan bus shalawat menuju Mina secara bergelombang tepat selepas tengah malam. Pola pergerakan ini dievaluasi secara ketat oleh Satuan Operasi Armuzna guna menghindari penumpukan jemaah seperti musim-musim sebelumnya.

Puji menegaskan kepatuhan terhadap arahan petugas kloter menjadi kunci keberhasilan skema pergerakan logistik ini. “Kita tidak ingin ada lagi jemaah yang kesiangan keluar dari Muzdalifah atau sampai harus berjalan kaki karena kepadatan,” tegasnya.

Sebagai bentuk totalitas pelayanan, PPIH menempatkan petugas berpengalaman lebih awal untuk bersiap di area Mina sebelum puncak haji dimulai. Bahkan, sebagian petugas didedikasikan khusus menjaga tenda dan tidak melaksanakan ibadah haji pribadi demi mengawal pergerakan jemaah. “Ada petugas yang memang kita dedikasikan khusus di Mina supaya jamaah tidak tersesat dan bisa terlayani dengan baik,” kata Puji.

Di sisi lain, kuota safari wukuf bagi jemaah sakit atau disabilitas parah tahun ini dirancang lebih ramping, yakni berkisar antara 300 hingga 400 orang, turun dari angka 525 jemaah pada tahun lalu.

“Arahan Pak Menteri dan Pak Wamen sekira 300 sampai 400 orang. Tahun lalu sekira 525 orang,” ungkap Puji. Penurunan kuota ini terjadi berkat pengetatan skrining kesehatan jemaah sejak berada di embarkasi tanah air.

Menjelang pergerakan menuju Arafah pada 25 Mei mendatang, jemaah haji, termasuk rombongan asal Jawa Timur, kembali diimbau menghemat energi dan tidak memaksakan diri melakukan ibadah sunnah luar ruang yang menguras fisik. “Haji itu puncaknya di Arafah. Jangan sampai tenaganya habis sebelum waktunya,” tutur Puji. [ian/MCH]/but


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.