Bagaimana Cara Keju Terbentuk Berlubang Seperti di Film Kartun
Surabaya (beritajatim.com)– Siapa yang tidak mengenal potongan keju kuning dengan lubang-lubang besar di dalamnya? Bentuk ini sering muncul di berbagai kartun, mulai dari Tom and Jerry hingga SpongeBob SquarePants.
Padahal, di dunia nyata ada banyak jenis keju yang bentuknya padat tanpa rongga sama sekali.
Ternyata, ada alasan khusus mengapa pembuat kartun sering menggambar keju dengan lubang besar. Dalam animasi, balok kuning polos bisa saja terlihat seperti emas, mentega, atau bahkan spons.
Dengan adanya lubang-lubang khas, penonton langsung tahu bahwa benda tersebut adalah keju tanpa perlu penjelasan tambahan.
Dilansir dari Chowhound, keju yang menjadi inspirasi bentuk ikonik ini adalah keju Swiss, terutama jenis Emmental. Keju asal Lembah Emme di Swiss ini memang terkenal karena memiliki lubang-lubang bulat di bagian dalamnya. Dalam dunia keju, lubang tersebut disebut “mata” atau eyes.
Selama bertahun-tahun, banyak orang mengira lubang pada keju terbentuk karena gigitan tikus seperti yang sering digambarkan di kartun. Namun, penyebab sebernarnya bukan tikus, melainkan proses alami saat keju dibuat.
Prosesnya dimulai ketika pembuat keju menambahkan bakteri bernama Propionibacterium freudenreichii ke dalam susu. Saat keju matang, bakteri ini memakan asam laktat dan menghasilkan gas karbon dioksida.
Karena tekstur keju mulai mengeras, gas tersebut terjebak di dalam dan membentuk gelembung udara. Setelah keju benar-benar padat, gelembung itu berubah menjadi lubang-lubang khas.
Dalam penjelasan The Century-Old Mystery, ditemukan bahwa gas karbon dioksida saja ternyata belum cukup untuk membentuk lubang yang sempurna. Gas tersebut membutuhkan titik awal agar bisa berkumpul menjadi gelembung. Titik awal ini berasal dari partikel kecil debu jerami yang masuk ke dalam susu saat sapi diperah secara tradisional.
Misteri ini mulai terungkap ketika para pembuat keju di Swiss menyadari bahwa lubang pada keju mereka semakin kecil, bahkan ada yang hampir hilang. Setelah diteliti, penyebabnya adalah teknologi pemerahan modern yang jauh lebih bersih. Karena susu kini hampir bebas dari debu jerami, gas karbon dioksida kehilangan tempat untuk berkumpul sehingga lubang besar sulit terbentuk. [Wakhdah Alisa Berliana]
Link informasi : Sumber