Dulu Hanya Menonton Reog, Kini Siswa Sekolah Rakyat Ponorogo Tampil di Panggung FNRP
Ponorogo (beritajatim.com) – Gemerlap cahaya kerlap-kerlip dari lampu Panggung Utama Alun-alun Ponorogo mungkin menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi puluhan siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 5 Ponorogo.
Mereka bukan seniman reog yang lahir dari keluarga pelaku seni. Sebagian besar bahkan hanya mengenal reog sebagai tontonan yang sesekali mereka lihat dari kejauhan.
Namun pada Sabtu (13/6/2026) malam itu, mereka berdiri sebagai pelaku utama. Mereka tampil membawa nama Grup Reog Garudo Djoyo Manggolo dalam Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI. Sebuah kesempatan yang selama ini hanya bisa mereka bayangkan.
Bagi Trihandika, siswa kelas 1 SMA Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo, panggung FNRP menjadi pengalaman yang benar-benar baru. Remaja 17 tahun itu dipercaya memerankan tokoh warok. Peran yang sebelumnya tidak pernah Dia bayangkan akan dimainkan di ajang sebesar festival nasional yang memperebutkan Piala Presiden Republik Indonesia tersebut.
Awalnya, proses latihan tidak mudah. Gerakan demi gerakan harus dipelajari dari dasar. Materi yang diberikan pelatih pun terasa sulit dipahami. Namun seiring waktu, kemampuan itu mulai terbentuk. “Awal-awal masih sulit memahami materi dan gerakan-gerakannya. Lambat laun terbiasa dan bisalah,” katanya.
Seminggu penuh menjelang penampilan, Trihandika menghabiskan waktunya untuk berlatih. Tidak hanya saat jadwal latihan bersama. Dia juga mengulang gerakan sendiri di kamar, agar tampil lebih percaya diri saat naik panggung.
Ada rasa gugup yang sulit disembunyikan. Apalagi ini menjadi kali pertama dirinya tampil di Festival Nasional Reog Ponorogo. Meski demikian, dirinya bertekad memberikan penampilan terbaik untuk sekolah yang telah memberinya kesempatan.
“Perasaan saya deg-degan, masih pertama kali jadi ada rasa grogi. Tapi berusaha menampilkan yang terbaik sebagai warok. Saya juga latihan sendiri di kamar supaya bisa tampil maksimal dan membanggakan sekolah saya, SR Ponorogo,” ungkapnya.
Perasaan serupa juga dirasakan Aulia Putri. Berperan sebagai penari jatil, siswi kelas 1 SMA SR Terintegrasi 5 Ponorogo itu menyebut kesempatan tampil di panggung utama FNRP sebagai mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Sebab sejak kecil, dirinya hanya menjadi penonton, saat kelompok-kelompok reog tampil di berbagai acara.
Aulia memang pernah tampil mewakili Sekolah Rakyat dalam Expo Pendidikan di Surabaya. Namun atmosfer Festival Nasional Reog Ponorogo memiliki makna berbeda. Ada kebanggaan tersendiri ketika dirinya bisa menjadi bagian dari kesenian yang menjadi identitas daerah kelahirannya tersebut.
Sebelumnya, Aulia hanya bisa melihat anak-anak seusianya menari jathilan dalam kelompok reog. Dia tidak pernah membayangkan suatu saat bisa berada di posisi yang sama. Sekolah Rakyat membuka jalan yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya.
“Tampil di panggung FNRP ini seperti impian yang jadi nyata. Dulu saya hanya melihat anak-anak seusia saya menari jathilan di grup reog. Tidak menyangka setelah sekolah di SR Ponorogo akhirnya bisa ikut tampil,” tuturnya.
Bagi Aulia, tampil dalam kesenian reog bukan sekadar menunjukkan kemampuan menari. Lebih dari itu, ada tanggung jawab untuk ikut menjaga warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur Ponorogo selama puluhan tahun.
“Bisa ambil bagian dalam kesenian reog itu kebanggaan bagi anak-anak Ponorogo. Saya bangga bisa ikut melestarikan budaya dari leluhur,” katanya.
Di balik keberanian para siswa itu berdiri di panggunh FNRP, ada sosok Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo, Devit Tri Candrawati. Gagasan membentuk grup reog sekolah lahir dari keyakinannya bahwa pendidikan tidak hanya berbicara soal akademik. Budaya juga harus menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Inspirasi itu muncul setelah mendengar pesan Presiden Prabowo Subianto tentang pentingnya kebudayaan bagi sebuah bangsa. Dari situlah muncul gagasan menghadirkan kelompok reog di lingkungan Sekolah Rakyat Ponorogo.
“Munculnya ide membentuk grup reog di Sekolah Rakyat ini, terinspirasi dari pepatah yang dikatakan Pak Prabowo, bahwa negara yang besar adalah negara yang mengutamakan kebudayaan,” ungkapnya.
Devit melihat siswa Sekolah Rakyat memiliki kemauan belajar yang tinggi. Hal itu menjadi modal penting untuk mengenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal. Reog dipilih karena menjadi identitas yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Ponorogo.
Menurutnya, pelestarian budaya harus dimulai sejak dini. Anak-anak tidak cukup hanya mengenal reog sebagai tontonan. Mereka perlu terlibat langsung agar memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.
“Di SR Ponorogo mempunyai anak-anak yang punya kemauan belajar tinggi. Saya melihat ini sebagai tantangan dan pembelajaran bagi mereka untuk memahami pentingnya melestarikan kebudayaan melalui kesenian reog,” jelasnya.
Grup Garudo Djoyo Manggolo mulai direncanakan sejak Oktober 2025. Gagasan itu kemudian dicetuskan secara resmi pada 18 Februari 2026. Sejak saat itu, persiapan dilakukan secara intensif demi mewujudkan mimpi siswanya bisa tampil di FNRP.
Devit menegaskan, siswa Sekolah Rakyat berhak mendapatkan pengalaman yang sama seperti siswa sekolah reguler. Karena itu, kesempatan tampil di festival nasional harus bisa mereka rasakan.
“Anak-anak wajib merasakan kesempatan yang dirasakan siswa di sekolah reguler. Saya ingin mereka merasakan pengalaman yang sama seperti siswa pada umumnya,” tegasnya.
Perjalanan menuju panggung utama tidak berlangsung singkat. Selama 5 bulan, para siswa belajar dari titik nol. Mereka dikenalkan pada sejarah reog, karakter tokoh, dasar-dasar tari hingga filosofi yang terkandung dalam setiap gerakan.
Banyak di antara mereka yang sebelumnya hanya mengetahui reog sebatas nama. Bahkan sebagian besar jarang menyaksikan pertunjukan secara langsung. Namun proses panjang itu menghasilkan perubahan yang luar biasa.
“Sebelumnya mereka benar-benar tidak tahu teknisnya seperti apa. Tahunya reog ya reog saja. Setelah proses latihan yang panjang, ternyata hasilnya luar biasa. Mereka bisa dan layak ditampilkan di panggung FNRP maupun tempat umum,” ungkap Devit.
Sementara itu, pelatih Grup Reog Garudo Djoyo Manggolo, Wisnu HP, menyebut semangat belajar para siswa menjadi kekuatan utama selama proses latihan. Meski memulai dari dasar, mereka menunjukkan kemauan yang tinggi untuk berkembang.
Menurut Wisnu, keberhasilan para siswa tampil di Festival Nasional Reog Ponorogo membuktikan bahwa kesempatan mampu mengubah kepercayaan diri anak-anak. Apa yang sebelumnya tampak mustahil kini menjadi kenyataan.
Pada FNRP XXXI, Grup Reog Garudo Djoyo Manggolo mendapat nomor urut 20 dan dijadwalkan tampil sebagai penampil keempat pada Sabtu (13/6/2026) malam. Bagi para siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo, panggung itu bukan sekadar arena pertunjukan.
Panggung itu adalah tempat di mana mimpi-mimpi sederhana menemukan jalannya. Dari anak-anak yang dahulu hanya menjadi penonton, kini mereka berdiri di hadapan ribuan pasang mata sebagai pelestari budaya Ponorogo. [end/suf]
Link informasi : Sumber