Cuaca Ekstrem Terjang Situbondo, Dapur Rumah Lansia Ambrol Seketika

0

Situbondo (beritajatim.com) – Cuaca ekstrem berupa angin kencang disertai hujan gerimis menyebabkan dapur rumah milik Mariani (61), warga Kampung Pandean, Desa Wonorejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, roboh, Sabtu (13/6/2026).

Meski tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka-luka, kejadian tersebut mengakibatkan bagian dapur rumah korban rusak berat dan tidak dapat digunakan. Kerugian ditaksir mencapai Rp25 juta.

Koordinator Pusdalops-PB BPBD Situbondo, Puriyono, mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Sebelumnya, wilayah Desa Wonorejo dan sekitarnya dilanda angin kencang disertai hujan gerimis sejak sekitar pukul 12.45 WIB.

“Saat kejadian, Ibu Mariani sedang beristirahat siang di dalam rumah. Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah dapur. Setelah dicek, ternyata seluruh tembok dapur telah ambrol dan bangunan roboh,” ujar Puriyono, Minggu (14/6/2026).

Menurutnya, korban yang terkejut dengan kejadian tersebut segera melaporkan peristiwa itu kepada ketua lingkungan dan perangkat desa setempat. Karena kondisi dapur mengalami kerusakan berat, untuk sementara korban mengungsi dan tinggal di rumah keluarganya.

Puriyono menjelaskan, bangunan yang roboh merupakan dapur rumah permanen berukuran sekitar 4 meter x 5 meter dengan tinggi 2,5 meter. Selain kerusakan bangunan, sejumlah perabot rumah tangga yang berada di dalam dapur juga ikut rusak tertimpa reruntuhan.

“Hasil asesmen sementara menunjukkan kerusakan masuk kategori rusak berat dengan estimasi kerugian sekitar Rp25 juta,” katanya.

Mendapat laporan kejadian tersebut, personel Pusdalops dan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Situbondo langsung mendatangi lokasi untuk melakukan asesmen dan pendataan dampak bencana.

Petugas juga berkoordinasi dengan pihak Kecamatan Banyuputih, Koramil, Polsek, Pemerintah Desa Wonorejo, Tagana Dinas Sosial, serta relawan dan warga setempat guna memastikan penanganan berjalan optimal.

Saat ini BPBD Situbondo tengah melakukan pengkajian kebutuhan pascabencana (Jitupasna) sebagai dasar penyaluran bantuan logistik maupun bantuan lainnya bagi korban terdampak.

“Kami telah melakukan kaji cepat terhadap kerusakan dan kebutuhan korban. Selanjutnya akan dilakukan tindak lanjut sesuai hasil asesmen di lapangan,” pungkas Puriyono. [awi/suf]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.