Hasil Bumi Kawasan Rehabilitasi DAS Tampil di Expo Ekonomi Santri Bondowoso
Ringkasan Berita:
- Berbagai hasil bumi dari kawasan rehabilitasi DAS PT Bumi Suksesindo (BSI) dipamerkan dalam Expo Ekonomi Kreatif Santri 2026 di Alun-Alun Bondowoso.
- Produk yang ditampilkan meliputi beras jagung, gula aren, pete, pisang, nangka, kluwek, kopi, dan madu.
- Pameran yang berlangsung pada 28 Oktober hingga 4 November 2026 tersebut diikuti 132 peserta dan menjadi ruang promosi serta pengembangan usaha santri, pesantren, dan warga nahdliyin.
- PT BSI saat ini mengelola sekitar 200 hektare lahan rehabilitasi DAS di Bondowoso dan Situbondo, dengan target rehabilitasi mencapai 1.000 hektare hingga 2027.
Bondowoso (beritajatim.com) – Berbagai hasil bumi dari kawasan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) ikut diperkenalkan kepada masyarakat melalui Expo Ekonomi Kreatif Santri 2026 di Alun-Alun Bondowoso, Jawa Timur. Pameran yang berlangsung pada 28 Oktober hingga 4 November 2026 itu menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar produk masyarakat melalui Gerakan Ekonomi Santri (GES).
Produk yang dipamerkan meliputi beras jagung, gula aren, pete, pisang, nangka, kluwek, kopi, hingga madu. Hasil bumi tersebut berasal dari wilayah rehabilitasi DAS yang dikelola PT Bumi Suksesindo (BSI) di Bondowoso dan sekitarnya.
Dalam kegiatan tersebut, PT BSI membuka anjungan pameran sebagai sponsor sekaligus peserta. Melalui anjungan itu, anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk tersebut memperkenalkan hasil bumi sekaligus menyampaikan informasi dan dokumentasi kegiatan penghijauan yang telah dilakukan perusahaan.
Penanggung jawab rehabilitasi DAS PT BSI di Bondowoso, Wulan, mengatakan keterlibatan perusahaan dalam pameran tersebut didasari dukungan terhadap inisiatif perluasan akses pasar bagi usaha masyarakat. Kelompok yang menjadi sasaran antara lain santri, pesantren, dan warga Nahdlatul Ulama (NU).
“Senang rasanya karena masyarakat bisa memamerkan hasil bumi dari area rehabilitasi DAS,” tutur Wulan.
Menurut dia, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kemitraan bisnis dan menghadirkan layanan sosial bagi masyarakat. Upaya itu dilakukan melalui kolaborasi lembaga-lembaga NU, pemerintah, serta lembaga keuangan atau perbankan.
Selain memperkenalkan produk hasil bumi, PT BSI menyampaikan informasi mengenai pengelolaan lahan kompensasi (lakom) dan rehabilitasi DAS. Perusahaan saat ini mengelola lahan rehabilitasi DAS seluas sekitar 200 hektare di wilayah Bondowoso dan Situbondo. Sementara itu, lahan kompensasi yang dikelola di Kabupaten Bondowoso mencapai sekitar 630 hektare.
Kedua jenis lahan tersebut merupakan lahan kritis yang menjadi lokasi kegiatan penghijauan PT BSI. Kegiatan itu merupakan bagian dari kepatuhan perusahaan terhadap regulasi terkait Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) di Tujuh Bukit Pesanggaran, Banyuwangi.
Penghijauan di lahan kompensasi dan rehabilitasi DAS memiliki perbedaan dengan kewajiban reklamasi. Reklamasi dilakukan di area tambang (site), sedangkan penghijauan pada lahan kompensasi dan rehabilitasi DAS dilaksanakan di luar area tambang.
PT BSI juga akan melanjutkan proyek rehabilitasi DAS sesuai ketentuan yang berlaku. Lahan kritis yang menjadi lokasi penghijauan ditunjuk oleh Kementerian Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Brantas Sampean.
Hingga 2027, perusahaan menargetkan rehabilitasi DAS seluas 1.000 hektare untuk PPKH OP4. Area tersebut tersebar di tiga kabupaten, yakni Bondowoso, Situbondo, dan Banyuwangi.
Di sisi lain, Expo Ekonomi Kreatif Santri 2026 menjadi ruang pertemuan bagi pelaku usaha dari kalangan santri, pesantren, dan warga nahdliyin dengan konsumen maupun mitra usaha. Ketua pelaksana pameran, Muhasim, mencatat sebanyak 132 peserta mengikuti kegiatan tersebut.
“Program ini diharapkan berkesinambungan. Untuk selanjutnya akan diadakan pembinaan sarasehan dan pendampingan untuk pengusaha muda yang akan berwirausaha,” tuturnya.
Muhasim, yang juga menjabat Wakil Bendahara LPNU Bondowoso, mengaku puas karena gagasan GES bisa terwujud. Pameran juga berjalan sesuai tujuan awal, yaitu mempertemukan usaha santri, pesantren, warga nahdliyin, konsumen, dan mitra yang bergerak dalam dunia UMKM.
Kegiatan tersebut juga dirancang untuk mengintegrasikan promosi, transaksi, kelas atau pelatihan usaha, business matching (penyelarasan usaha), serta akses layanan perbankan dan pemerintahan. Selain itu, pameran menghadirkan zona layanan sosial NU melalui partisipasi lembaga dan badan otonom NU.
Penyelenggara juga menerapkan pengelolaan acara berbasis bebas sampah dan atau menuju nol sampah (zero waste). [beq]
Link informasi : Sumber