Iduladha Tahun Ini Pengusaha Tusuk Sate Menjerit, Penjualan Turun Drastis
Probolinggo (beritajatim.com) – Perayaan Hari Raya Iduladha, yang selama ini identik dengan banjir pesanan tusuk sate, kini tak lagi membawa berkah besar bagi para pengusaha kecil di Probolinggo. Pelemahan ekonomi dan turunnya daya beli masyarakat membuat omzet para pelaku usaha biting merosot tajam.
As’ad, pengusaha tusuk sate di Jalan Priksan, Kelurahan Kebonsari Wetan, Kota Probolinggo mengaku kenaikan permintaan menjelang Iduladha tahun ini jauh dari harapan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pasar kini terasa lesu.
“Biasanya menjelang kurban itu ramai sekali. Sekarang tetap ada kenaikan, tapi kecil. Ekonomi masyarakat lagi lemah, daya beli turun,” ujar As’ad.
Padahal, Iduladha selama ini menjadi momentum emas bagi pengusaha tusuk sate. Kebutuhan tusuk sate melonjak karena hampir setiap rumah tangga mengolah daging kurban menjadi sate, tidak hanya pedagang kaki lima atau warung makan.
Namun kondisi pasar tradisional yang sepi membuat perputaran barang tersendat. Dampaknya, volume pengiriman tusuk sate ikut anjlok drastis.
Jika pada tahun-tahun normal As’ad mampu mengirim 1,2 hingga 1,3 ton tusuk sate per minggu untuk pasar Probolinggo hingga Bali, kini jumlahnya tinggal sekitar 7,5 kuintal per minggu. Penurunan itu mencapai lebih dari 50 persen.
“Biasanya seminggu dua kali pengambilan, sekarang cuma sekali,” katanya.
Tak hanya dihantam sepinya permintaan, pengusaha tusuk sate juga dipusingkan dengan kelangkaan bahan baku lidi bambu. Penyebabnya, banyak perajin bambu di wilayah Pasuruan, Malang dan Probolinggo Timur beralih membuat rangka layang-layang yang dinilai lebih menguntungkan.
Musim layangan yang bertepatan dengan Iduladha membuat bahan baku biting berebut pasar. Para perajin memilih produksi layangan karena keuntungan yang jauh lebih besar dibanding membuat sujen tusuk sate kiloan.
“Biting sekarang susah karena bentrok dengan produksi layangan. Modal sedikit bisa jadi layangan dan dijual seribu rupiah. Sedangkan sujen satu kilo Cuma dihargai Rp6.500 di tingkat perajin,” jelasnya.
Ironisnya, di tengah biaya produksi yang terus naik, harga jual tusuk sate justru mandek selama lebih dari 15 tahun terakhir. Hingga kini, harga tusuk sate kambing di tingkat pengepul masih berkisar Rp10 ribu sampai Rp12 ribu per kilogram.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan harga bambu gelondongan yang melonjak dari Rp8 ribu menjadi Rp25 ribu per batang. Harga plastik kemasan dan kebutuhan produksi lainnya juga ikut naik.
As’ad menilai para pengusaha tusuk sate di Jawa Timur gagal menjaga stabilitas harga karena tidak memiliki kekompakan. Persaingan antarpelaku usaha justru membuat harga terus ditekan demi merebut pasar.
“Begitu ada yang mau naikkan harga, langsung ada pemain baru banting harga supaya barangnya cepat laku. Akhirnya harga tusuk sate jalan di tempat terus,” pungkasnya. (rap/but)
Link informasi : Sumber