Jamasan Tombak Kyai Upas Tulungagung Sepi Pengunjung, Disbudpar Siapkan Promosi Besar Tahun Depan

0

Ringkasan Berita:

  • Pemerintah Kabupaten Tulungagung kembali menggelar tradisi Jamasan Tombak Kyai Upas sebagai agenda budaya tahunan setiap bulan Suro.
  • Ritual pelestarian pusaka peninggalan Ki Ageng Mangir tersebut masih minim kunjungan masyarakat maupun wisatawan.
  • Disbudpar menilai momentum libur sekolah menjadi salah satu penyebab rendahnya jumlah pengunjung.
  • Untuk meningkatkan kunjungan, promosi Jamasan Tombak Kyai Upas akan dilakukan lebih masif sejak awal tahun.

Tulungagung (beritajatim.com) – Tradisi Jamasan Pusaka Tombak Kyai Upas kembali digelar Pemerintah Kabupaten Tulungagung pada Jumat (3/7/2026). Ritual budaya yang rutin dilaksanakan setiap Jumat di bulan Suro dalam penanggalan Jawa tersebut masih menjadi bagian penting dari pelestarian warisan leluhur sekaligus masuk dalam kalender wisata Kabupaten Tulungagung.

Namun, pelaksanaan tahun ini belum mampu menarik banyak pengunjung. Meski telah dipromosikan sebagai salah satu agenda wisata budaya, jumlah masyarakat maupun wisatawan yang hadir masih tergolong minim.

Prosesi jamasan dilakukan dengan membersihkan karat yang menempel pada mata Tombak Kyai Upas sebagai bentuk perawatan pusaka sekaligus pelestarian budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Tombak Kyai Upas diyakini merupakan pusaka peninggalan Ki Ageng Mangir yang kemudian diwariskan kepada para Bupati Tulungagung hingga sekarang. Dalam catatan sejarah, Ki Ageng Mangir dikenal sebagai menantu Raja Mataram yang memilih menolak tunduk kepada kerajaan.

Setelah wafat, pusaka tersebut disimpan di Pendopo Kanjengan Tulungagung dan menjadi salah satu benda bersejarah yang berkaitan dengan asal-usul berdirinya Kabupaten Tulungagung.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, mengatakan tradisi jamasan tidak hanya menjadi bentuk pelestarian benda bersejarah, tetapi juga merupakan ungkapan rasa syukur atas perjalanan pemerintahan dan kehidupan masyarakat selama setahun terakhir.

“Ini juga merupakan bentuk syukur kami selama setahun ini. Semoga semua kegiatan berjalan lancar,” ujarnya.

Meski memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, pelaksanaan Jamasan Tombak Kyai Upas tahun ini masih belum mampu mendatangkan banyak wisatawan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Tulungagung, M. Ardian Candra, mengakui antusiasme masyarakat terhadap agenda budaya tersebut masih relatif rendah.

Menurutnya, salah satu penyebab kondisi tersebut adalah pelaksanaan tradisi yang masih bertepatan dengan masa libur sekolah sehingga banyak warga memilih menghabiskan waktu berlibur ke luar daerah.

“Mungkin ini masih libur sekolah, jadi banyak pelajar dan keluarganya yang masih berlibur di luar kota,” katanya.

Belajar dari pelaksanaan tahun ini, Disbudpar Tulungagung telah menyiapkan strategi promosi yang lebih besar untuk penyelenggaraan berikutnya. Promosi akan dilakukan sejak awal tahun agar masyarakat maupun wisatawan memiliki waktu lebih panjang untuk memasukkan agenda budaya tersebut ke dalam rencana perjalanan mereka.

“Tahun depan, kami akan promosikan Jamasan Tombak Kyai Upas dari awal tahun,” pungkas Ardian.

Pemerintah Kabupaten Tulungagung berharap promosi yang dilakukan lebih awal mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus memperkuat posisi Jamasan Tombak Kyai Upas sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Jawa Timur. Selain melestarikan warisan sejarah, tradisi ini juga diharapkan memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat setiap datangnya bulan Suro. [nm/beq]


Link informasi : Sumber

Leave A Reply

Your email address will not be published.