Kekeringan Jatim, Khofifah Minta DMI Gelar Salat Istisqa Serentak Jumat Ini
Ringkasan Berita:
- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta DMI Jatim menggelar salat istisqa serentak setelah salat Jumat pekan ini.
- Khofifah menyebut 24 kabupaten di Jatim menghadapi kondisi kekeringan di sejumlah titik, termasuk wilayah dengan kategori kering ekstrem.
- Pemprov Jatim menjalankan berbagai langkah, mulai dari operasi modifikasi cuaca, pengeboran sumur, pipanisasi hingga penarikan air dari sumber yang berjarak belasan kilometer.
- Khofifah menekankan penanganan kekeringan membutuhkan ikhtiar pemerintah berbasis teknologi sekaligus dukungan masyarakat melalui ikhtiar keagamaan.
Ponorogo (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Timur menggelar salat istisqa secara serentak di masjid-masjid pada Jumat (25/9/2026) pekan ini. Salat meminta hujan tersebut diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar menghadapi kekeringan yang masih melanda sejumlah wilayah Jawa Timur.
“Dewan Masjid Indonesia Jawa Timur, saya minta Jumat ini di masjid-masjid, setelah salat Jumat, saya minta tolong dilaksanakan salat Istisqa, salat mohon hujan yang rahmat dan manfaat,” kata Khofifah, ditulis Senin (21/9/2026).
Menurut Khofifah, salat istisqa bukan sekadar permohonan agar hujan turun. Doa tersebut juga menjadi ikhtiar agar hujan yang turun membawa manfaat bagi masyarakat.
“Jadi bukan hanya salat mohon hujan, salat mohon kepada Allah menurunkan hujan yang membawa rahmat dan manfaat,” lanjutnya.
Permintaan tersebut disampaikan di tengah penanganan kekeringan yang masih menjadi perhatian Pemprov Jatim. Khofifah menyebut terdapat 24 kabupaten di Jawa Timur yang pada titik tertentu menghadapi kondisi kering ekstrem. Pemerintah daerah juga terus melakukan berbagai langkah untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Pemprov Jatim sebelumnya mencatat 24 kabupaten telah menetapkan status keadaan darurat kekeringan di wilayahnya.
“Di Jawa Timur ini ada 24 kabupaten yang di titik tertentu ada yang pada posisi kering ekstrem,” ungkapnya.
Pemprov Jatim, kata Khofifah, telah melakukan berbagai upaya untuk menghadapi kondisi tersebut. Penanganan tidak hanya mengandalkan satu metode, tetapi mengombinasikan pendekatan berbasis teknologi dengan pencarian sumber air dan dukungan masyarakat.
Salah satu langkah yang dilakukan ialah operasi modifikasi cuaca (OMC). Khofifah menyebut penyemaian awan telah dilakukan sejak 3 September ketika BMKG mendeteksi adanya awan yang masuk ke daratan Jawa Timur. Dari operasi tersebut, hujan yang dihasilkan berada pada intensitas ringan hingga sedang.
Pelaksanaan OMC di Jawa Timur pada 3-9 September 2026 memang dilakukan melalui kolaborasi lintas instansi, termasuk BMKG, Kementerian Kehutanan, TNI Angkatan Udara, Manggala Agni, dan Rekayasa Atmosfer Indonesia. BMKG mencatat hujan mulai terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur pada 6-7 September setelah sebelumnya pada 4-6 September tidak terjadi hujan di seluruh wilayah provinsi tersebut.
“Sebetulnya Pemprov sendiri sudah melakukan sangat banyak ikhtiar. Sejak tanggal 3 September yang lalu, kalau BMKG itu mendeteksi ada awan yang masuk ke daratan Jawa Timur, maka kita melakukan penyemaian dan itu jadi hujan ringan sampai dengan sedang,” jelas Khofifah.
Selain OMC, Pemprov Jatim juga mencari sumber air yang lokasinya tidak jauh dari wilayah terdampak. Jika sumber tersebut memungkinkan untuk dimanfaatkan, pemerintah akan mengupayakan pembangunan jaringan pipa sehingga air dapat dialirkan menuju desa yang membutuhkan pasokan air bersih.
“Kalau misalnya di desa ini terkonfirmasi ada titik air terdekat, saya rasa kita bisa bersama-sama untuk membangun koneksitas pipanisasi agar air itu bisa dialirkan ke desa ini karena kita juga melakukan itu di berbagai daerah,” katanya.
Khofifah juga menyebut pengeboran sumur menjadi salah satu opsi yang dilakukan pemerintah. Namun, tingkat kesulitan menemukan sumber air bawah tanah berbeda di setiap wilayah. Ada lokasi yang menemukan air pada kedalaman 90 meter. Sebaliknya, ada pula pengeboran hingga 200 meter yang masih menemukan batu.
“Ada juga sumur bor, ada yang 90 meter sudah ketemu air, ada yang 200 meter masih ketemu batu. Sampai kemudian mata bornya 19 kali ganti. Jadi masing-masing daerah tidak sama tingkat kesulitannya,” kata Khofifah.
Kondisi tersebut membuat penanganan kekeringan membutuhkan strategi berbeda di setiap daerah. Pemerintah tidak hanya mengandalkan pengeboran sumur, tetapi juga terus mencari sumber mata air serta memanfaatkan OMC ketika terdapat awan potensial.
BMKG Jawa Timur sebelumnya menyebut wilayah provinsi tersebut berada pada puncak musim kemarau pada periode Agustus-September 2026. Kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan dan membuat ketersediaan air perlu dijaga.
Karena itu, Khofifah menegaskan penanganan kekeringan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah menjalankan langkah berbasis teknologi, sementara masyarakat juga dapat mengambil bagian melalui ikhtiar keagamaan. Salat istisqa diharapkan dapat digelar di masjid-masjid Jawa Timur.
“Jadi ya memang semua pihak sudah harus bersama-sama mengikhtiari,” tegasnya.
Khofifah mengungkapkan sejumlah daerah bahkan harus mengambil air dari sumber yang jaraknya cukup jauh. Di Singosari, Malang, misalnya, air diambil dari kawasan Arjuna dengan jarak sekitar 15 kilometer. Di lokasi lain, jarak penarikan air bahkan mencapai 17 kilometer.
“Secara saintifik kita melakukan operasi modifikasi cuaca, kita melakukan pengeboran sumur, kita menarik air dari sumber-sumber tertentu. Jadi kalau di Singosari Malang, kita ngambilnya dari Arjuna, itu 15 kilo. Dan ada di beberapa titik lain, ada yang sampai 17 km ditarik,” ujar Khofifah.
Upaya tersebut dilakukan agar kebutuhan air bersih warga tetap dapat dipenuhi ketika sumber air di sekitar permukiman terbatas. Pemprov Jatim sebelumnya juga telah menyalurkan bantuan air bersih dan sarana penampungan ke wilayah terdampak, termasuk Pasuruan.
Meski begitu, pembangunan jaringan air tidak selalu mudah dilakukan. Khofifah menyebut ada sumber air yang sudah terkonfirmasi, tetapi pemanfaatannya terkendala persetujuan masyarakat setempat. Warga khawatir pasokan air untuk desa mereka sendiri tidak mencukupi jika sumber tersebut dialirkan ke wilayah lain.
Karena itu, Pemprov Jatim harus mencari pilihan lain yang dapat diterima semua pihak.
“Ada informasi bahwa di sana ada sumber, nanti tim kita akan bersama-sama mencari sumber yang bisa ditarik airnya. Ada juga, sudah terkonfirmasi sumbernya ada, tapi ketika sumber itu mau dibangun pipanisasi ke daerah yang mengalami kekeringan tiap tahun, masyarakatnya tidak berkenan karena khawatir nanti air untuk desa itu tidak cukup,” jelasnya.
Khofifah mengatakan berbagai pilihan tersebut terus dicoba untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi. Mulai dari salat istisqa, operasi modifikasi cuaca, pengeboran sumur, hingga penarikan air dari sumber yang berada jauh dari wilayah terdampak.
“Jadi varian-varianlah yang sudah kita coba bagaimana pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat ini bisa kita siapkan bersama-sama,” pungkasnya. [end/beq]
Link informasi : Sumber