Okupansi Hotel Kota Probolinggo April 2026 Capai 20,50 Persen, Didominasi Perjalanan Dinas
Ringkasan Berita:
- BPS mencatat okupansi hotel Kota Probolinggo pada April 2026 mencapai 20,50 persen.
- Kenaikan tingkat hunian didominasi meningkatnya perjalanan dinas yang banyak memanfaatkan hotel berbintang.
- Rata-rata lama menginap tamu masih bertahan di kisaran satu hari.
- BPS mendorong penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan.
Probolinggo (beritajatim.com) – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo mencatat adanya perbaikan kinerja sektor perhotelan selama April 2026. Berdasarkan data resmi, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel mencapai 20,50 persen atau meningkat 2,32 poin dibandingkan Maret 2026 yang tercatat sebesar 18,18 persen.
Meski menunjukkan tren positif, angka tersebut juga mengindikasikan sekitar 79,50 persen kapasitas kamar hotel di Kota Probolinggo masih belum terisi selama April. Dengan kata lain, hanya sekitar satu dari lima kamar hotel yang berhasil terjual.
Kepala BPS Kota Probolinggo, Joko Santoso, menjelaskan peningkatan okupansi pada April tidak terjadi secara merata di seluruh jenis hotel. Berdasarkan hasil pendataan BPS, kenaikan terutama berasal dari hotel berbintang, sedangkan tingkat hunian hotel nonbintang relatif tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Menurutnya, salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan okupansi adalah meningkatnya aktivitas perjalanan dinas dari luar daerah, baik yang dilakukan instansi pemerintah maupun sektor swasta.
“Momentum perjalanan dinas dari luar kota menjadi salah satu pendorong meningkatnya tingkat hunian hotel. Dampaknya lebih terasa pada hotel berbintang yang memang menjadi pilihan utama tamu perjalanan dinas,” ujar Joko, Rabu (1/7/2026).
Data BPS menunjukkan, sepanjang April 2026 jumlah malam kamar tersedia (MKTS) tercatat sebanyak 26.190 kamar, sedangkan malam kamar terjual (MKTJ) mencapai 5.370 kamar.
Dibandingkan Maret 2026, jumlah kamar yang tersedia justru mengalami penurunan. Sebaliknya, jumlah malam kamar yang terjual meningkat dari 4.919 menjadi 5.370 malam kamar atau bertambah 451 malam kamar.
Kondisi tersebut menjadi faktor utama meningkatnya tingkat okupansi. Dengan pasokan kamar yang lebih sedikit tetapi permintaan meningkat, persentase kamar yang terisi ikut mengalami kenaikan.
Jika melihat tren selama satu tahun terakhir, tingkat hunian hotel di Kota Probolinggo mengalami fluktuasi. Pada April 2025, TPK tercatat sebesar 22,73 persen, kemudian meningkat hingga 24,94 persen pada Agustus 2025 sebelum turun menjadi 17,35 persen pada Januari 2026. Setelah berada di angka 18,29 persen pada Februari dan 18,18 persen pada Maret, tingkat hunian kembali membaik pada April 2026 hingga mencapai 20,50 persen.
Meski demikian, capaian tersebut masih berada di bawah sebagian besar tingkat hunian selama 2025. Hal itu menunjukkan sektor perhotelan di Kota Probolinggo masih berada dalam proses pemulihan.
Di sisi lain, peningkatan jumlah tamu belum berdampak terhadap lamanya wisatawan menginap. Rata-rata Lama Menginap Tamu (RLMT) selama April 2026 masih stagnan di angka 1,00 hari untuk tamu domestik dan 1,01 hari untuk tamu asing. Angka tersebut hampir tidak berubah sepanjang satu tahun terakhir.
Stabilnya RLMT menunjukkan mayoritas tamu yang datang ke Kota Probolinggo masih melakukan kunjungan singkat atau short stay, baik untuk kepentingan pekerjaan, perjalanan dinas, maupun aktivitas bisnis yang tidak memerlukan waktu menginap lebih dari satu malam.
BPS menilai kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata. Sebab, peningkatan okupansi yang masih ditopang perjalanan dinas dinilai belum cukup menciptakan pertumbuhan sektor perhotelan yang berkelanjutan.
Selain meningkatkan jumlah tamu, pemerintah juga didorong memperpanjang lama tinggal pengunjung melalui penyelenggaraan agenda wisata, kegiatan berskala regional maupun nasional, penguatan sektor ekonomi kreatif, serta promosi destinasi wisata yang mampu menarik wisatawan menghabiskan lebih banyak waktu di Kota Probolinggo.
Joko menambahkan, pemerintah daerah juga perlu menyusun kebijakan yang dapat meningkatkan okupansi secara lebih merata, tidak hanya di hotel berbintang tetapi juga hotel nonbintang. Dengan demikian, manfaat pertumbuhan sektor perhotelan dapat dirasakan seluruh pelaku usaha akomodasi di Kota Probolinggo.
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan April 2026 menjadi awal perbaikan bagi sektor perhotelan Kota Probolinggo. Namun, tingkat hunian yang baru mencapai 20,50 persen serta rata-rata lama menginap yang masih sekitar satu hari menjadi sinyal bahwa pemulihan industri hotel masih membutuhkan dukungan lebih besar dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. [rap/beq]
Link informasi : Sumber