Saat Macan Sukolilo Memburu Jambret: Dua Jam Mengejar, Berakhir di Ban Bocor
Surabaya (beritajatim.com) – Di bawah hangat matahari pagi, Senin (21/9/2026), dada para anggota Unit Reskrim Polsek Sukolilo tampak sedikit membusung. Satu per satu mereka menerima penghargaan dari Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan.
Piagam itu mungkin hanya selembar kertas.
Namun bagi anggota yang menerimanya, penghargaan tersebut membawa kembali ingatan tentang malam-malam panjang, pengejaran yang melelahkan, kehilangan jejak, hingga akhirnya sebuah ban bocor menghentikan laju empat orang yang selama beberapa hari mereka buru.
Cerita itu bermula hampir sebulan sebelumnya.
Senin (24/8/2026) sore, aksi jambret terjadi di kawasan Keputih, Surabaya. Laporan masyarakat masuk ke Polsek Sukolilo.
Bagi polisi, laporan semacam itu bukan sekadar catatan yang masuk ke meja kerja. Ada korban di baliknya. Ada rasa aman warga yang terganggu. Dan ada kemungkinan pelaku akan mengulangi aksinya di tempat lain.
“Setelah menerima laporan dari masyarakat, kami memang meningkatkan eskalasi patroli untuk memburu pelaku,” kata Kanit Reskrim Polsek Sukolilo, Iptu Arie Widodo, Rabu (23/9/2026).
Sejak saat itu, pencarian digencarkan.
Jalanan menjadi ruang kerja baru bagi anggota Unit Reskrim Polsek Sukolilo. Waktu istirahat berkurang. Perhatian tertuju pada kendaraan, gerak-gerik orang, dan setiap informasi yang mungkin mengarah kepada pelaku.
Hingga Jumat (28/8/2026) sore, pencarian itu menemukan titik terang.
Di kawasan Gebang, anggota patroli melihat empat pria yang gerak-geriknya mencurigakan. Mereka adalah Riswanda Prasetyo Handoko (27), Resta Marvianadi (40), Rico Andrean Febrian (26), dan M Bagus Prakoso (26).
Keempatnya diduga merupakan komplotan yang melakukan pembegalan di Keputih empat hari sebelumnya.
Tak ada sirene.
Tak ada lampu sorot yang menyala.
Anggota Polsek Sukolilo memilih membuntuti mereka dari belakang. Pergerakan komplotan itu dipantau diam-diam. Dari Gebang, empat orang tersebut bergerak hingga kawasan Tambaksari.
Di sana, mereka kembali beraksi.
Keempatnya menjalankan peran masing-masing. Ada yang menjadi eksekutor, ada yang bertugas sebagai sweeper. Namun setelah beraksi, mereka berhasil melarikan diri.
Pengejaran pun dimulai.
Motor anggota bergerak mengejar. Jarak terus dipangkas. Tetapi kecepatan pelaku membuat pelacakan tak berjalan sesuai harapan.
Jejak mereka hilang.

Bagi tim opsnal yang kemudian dikenal dengan julukan “Macan Sukolilo”, kehilangan jejak bukan berarti pengejaran selesai.
Mereka memperluas radius pencarian.
Lebih dari dua jam mereka berputar mencari keberadaan komplotan tersebut. Jalan demi jalan dilalui. Informasi ditelusuri. Kesempatan sekecil apa pun tetap ditunggu.
Sampai akhirnya, keberuntungan datang dengan cara yang tak terduga.
Di kawasan Tidar, anggota kembali melihat sosok yang mereka cari.
Kali ini situasinya berbeda.
Komplotan itu tak lagi bergerak dalam formasi utuh. Salah satu sepeda motor yang mereka gunakan mengalami ban bocor dan harus ditambal. Kondisi tersebut membuat pergerakan mereka terpecah.
Kesempatan itu tak dilewatkan.
“Ketika ada kesempatan, anggota lantas melakukan penangkapan,” terang Arie.
Empat orang akhirnya diringkus.
Pengejaran yang dimulai dari laporan jambret di Keputih berujung pada terbongkarnya catatan panjang komplotan tersebut.
Dua di antaranya merupakan pemain lama.
Riswanda alias Dugul pernah berurusan dengan hukum dan mendekam di sel Polsek Mulyorejo pada 2024. Sementara Resta juga tercatat pernah menjalani hukuman di Jambangan pada 2021 dan Tenggilis Mejoyo pada 2023.
Catatan kepolisian menunjukkan komplotan tersebut telah beraksi di 10 tempat kejadian perkara (TKP) sepanjang 2026.
Dua korban bahkan meninggal dunia setelah terjatuh dari sepeda motor dalam aksi yang dilakukan komplotan tersebut.
Pengejaran di jalanan Surabaya akhirnya berhenti di Tidar.
Tetapi bagi anggota “Macan Sukolilo”, cerita itu tidak berhenti ketika borgol terpasang di tangan para pelaku.
Setelah proses penangkapan selesai, mereka kembali ke Polsek Sukolilo.
Keringat masih membasahi seragam. Tubuh lelah setelah berjam-jam berada di jalan.
Di sela waktu setelah tugas selesai, ponsel kembali menjadi benda yang dicari.
Ada layar yang retak.
Ada foto anak yang tersimpan di dalamnya.
Ada pula panggilan video dengan istri yang mungkin sejak tadi menunggu kabar.
Beberapa jam sebelumnya, tangan mereka digunakan untuk mengejar dan menangkap orang yang diduga melakukan kejahatan di jalanan. Kini tangan yang sama bergerak pelan menyentuh layar ponsel, membuka foto keluarga dan memastikan orang-orang yang mereka cintai baik-baik saja.
Di jalanan, mereka adalah anggota reserse yang memburu pelaku kejahatan.
Di rumah, mereka tetap seorang ayah, seorang suami, dan bagian dari keluarga yang juga menunggu mereka pulang.
Dan mungkin, di situlah makna lain dari tugas “Macan Sukolilo”: mengejar mereka yang membuat jalanan tidak aman, agar suatu hari jalan yang sama bisa dilalui anak-anak mereka tanpa rasa takut.
Link informasi : Sumber