Nostalgia di Istana Gebang Blitar, Menanti Megawati di Rumah Bung Karno Kecil Merajut Mimpi
Blitar (beritajatim.com) – Angin sore di Jalan Sultan Agung, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, seolah membawa kembali kepingan memori dari puluhan tahun lalu. Di sanalah berdiri Istana Gebang, rumah masa kecil Sang Proklamator, Ir. Soekarno.
Kini, rumah penuh kenangan itu tengah bersolek, menanti kehadiran sosok istimewa anak dari sang Proklamator yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Ya, Presiden ke-5 Republik Indonesia itu memang dijadwalkan akan meresmikan sebuah mahakarya baru di pelataran rumah masa kecil sang ayahanda.
Bukan sekadar monumen biasa, patung yang akan diresmikan ini membawa nuansa yang lebih intim dan reflektif. Jika lazimnya Bung Karno diabadikan dalam pose berdiri gagah seraya menunjuk ke arah masa depan, patung di Istana Gebang ini justru menampilkan Sang Putra Fajar tengah duduk tenang sambil membaca buku.
Pose ikonik ini seketika mengingatkan publik pada patung serupa yang menghiasi pelataran Gedung Lemhannas RI di Jakarta. Visualisasi ini seakan ingin menegaskan satu hal fundamental yakni sebelum menjadi orator ulung dan bapak bangsa, Soekarno adalah seorang pembaca yang rakus, seorang pemikir yang menggali sumur ilmu dari lembaran-lembaran kertas.
Di balik megahnya patung dan segarnya wajah baru Istana Gebang, ada kerja keras dan semangat gotong royong dari para kader PDI Perjuangan. Ketua DPD PDIP Jawa Timur, Said Abdullah, menceritakan proses panjang di balik mahakarya tersebut.
“Ini rumah kecil Bung Karno. Itu setelah renovasi. Dengan patungnya juga itu tingginya 5 meter oleh dr. Dunadi dari Bantul, Yogya. Biayanya gotong royong dari seluruh pengurus DPD Partai, 4,1 miliar,” papar Said, Minggu (14/06/2026).

Pemugaran Istana Gebang tak hanya berhenti pada urusan estetika bangunan dan lanskap. DPD PDIP Jawa Timur rupanya menyadari betul bahwa sejarah tidak boleh berhenti menjadi sekadar benda mati yakni ia harus hidup dan relevan, terutama bagi generasi muda yang lahir di era digital.
Karena itulah, kawasan cagar budaya ini tengah disiapkan untuk melompat ke masa depan. Said menjelaskan visi besarnya untuk menyulap rumah masa kecil Bung Karno menjadi museum interaktif.
“Dan memang itu nanti akan kita, dengan izin Walikota tentu, akan kita lengkapi dengan digital. Supaya anak-anak muda kita, Z-gen, kalau datang tinggal pencet, untuk mengetahui napa, keterangannya, napak tilas Bung Karno, perjuangan Bung Karno, sejarah Bung Karno. Nanti akan kita persiapkan,” urai Said.
Sebuah tempat bersejarah yang disandingkan dengan kemudahan teknologi masa kini diharapkan mampu meruntuhkan stigma bahwa museum itu membosankan. Apalagi, ada satu daya tarik pamungkas yang diyakini ampuh mengundang generasi masa kini untuk betah berlama-lama menyerap ilmu sang Proklamator.
“Dan Wi-Fi-nya juga gratis. Iya dong, kan untuk kepentingan masyarakat. Ya?,” tutupnya seraya tersenyum.
Istana Gebang kini bukan sekadar rumah tua tempat menyimpan cerita masa lalu. Dengan hadirnya patung “Bung Karno Membaca” setinggi 5 meter dan fasilitas digital masa depan, tempat ini telah bersiap menjadi jembatan waktu menyambungkan kedalaman pemikiran Sang Proklamator dengan kecepatan layar sentuh anak-anak muda Generasi Z. (owi/but)
Link informasi : Sumber