Tradisi Seblang Bakungan Kembali Digelar, Ribuan Wisatawan Saksikan Ritual Sakral Suku Osing Banyuwangi
Ringkasan Berita:
- Ritual Seblang Bakungan kembali digelar oleh masyarakat Osing di Banyuwangi dan menjadi daya tarik wisata budaya saat libur panjang.
- Isni (54) kembali menjadi penari Seblang yang tampil dalam kondisi trance, diiringi musik gending tradisional dan rangkaian ritual adat.
- Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen mendukung pelestarian Seblang sebagai warisan budaya sekaligus penguat identitas daerah.
Banyuwangi (beritajatim.com) – Masyarakat Osing di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, kembali menggelar dan melestarikan ritual Seblang pada Minggu malam (31/5/2026). Tradisi sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun ini menjadi salah satu daya tarik budaya yang memikat ribuan wisatawan selama musim libur panjang.
Seblang Bakungan merupakan tarian sakral yang dibawakan oleh perempuan paruh baya dalam kondisi trance atau kehilangan kesadaran. Pada tahun ini, ritual tersebut dibawakan oleh Isni yang telah berusia 54 tahun. Penampilannya kali ini menjadi yang ketiga sebagai penari Seblang.
Ritual kuno tersebut secara rutin digelar setiap bulan Dzulhijah atau bulan Haji, tepatnya sepekan setelah Hari Raya Idul Adha. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian penting dari warisan budaya masyarakat Osing, tetapi juga menjadi magnet wisata budaya di Banyuwangi.
Sebelum ritual utama dimulai, warga Osing Bakungan mengawali rangkaian acara dengan kenduri massal yang digelar di sepanjang jalan kampung. Warga terlebih dahulu melaksanakan salat Magrib dan salat hajat di masjid setempat sebagai bentuk doa bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan desa.
Usai beribadah, warga melanjutkan prosesi dengan parade oncor atau obor yang diarak mengelilingi desa dalam tradisi yang dikenal sebagai ider bumi. Di sepanjang rute, warga menikmati tumpeng dan menu khas pecel pithik bersama-sama di atas tikar, ditemani suasana hangat cahaya obor yang menerangi malam.
Puncak ritual terjadi ketika penari Seblang memasuki kondisi trance. Isni menari dengan mata terpejam mengikuti iringan gending tradisional seperti Kodok Ngorek dan Seblang Lukinto. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, pada saat itu sang penari diyakini sedang dirasuki roh leluhur.
Nuansa magis yang menyelimuti tarian dan seluruh rangkaian ritual menjadi tontonan yang memikat para pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara asal Hungaria, Gergo Zalatnai. “Unik. Penarinya paruh baya, dan sedang kehilangan kesadaran. Sangat tidak lazim, tapi justru ini yang membuat menarik. Saya belum pernah melihat seperti ini di tempat lain,” ujar Gergo Zalatnai.

Kesan mendalam juga dirasakan Riski, wisatawan asal Yogyakarta yang sengaja datang ke Banyuwangi untuk menyaksikan Seblang Bakungan. “Terkesan, terasa magisnya. Selain itu saya juga kagum dengan warga di sini yang gotong royong terus menggelar acara ini setiap tahunnya,” ucapnya.
Di Banyuwangi, tradisi Seblang hanya dapat ditemukan di dua wilayah yang menjadi basis masyarakat Osing, yakni Desa Olehsari dan Kelurahan Bakungan di Kecamatan Glagah. Meski memiliki akar budaya yang sama, keduanya memiliki karakteristik berbeda.
Seblang Bakungan digelar setiap bulan Dzulhijah dan dibawakan oleh penari perempuan yang telah berusia paruh baya. Sementara itu, Seblang Olehsari dilaksanakan setelah Idul Fitri dan dibawakan oleh penari yang masih berusia muda.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengapresiasi keguyuban masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur yang diyakini telah ada sejak tahun 1639 tersebut.
Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung pelestarian Seblang Bakungan sebagai salah satu identitas budaya Banyuwangi.
“Tradisi ini bukan sekadar upaya menjaga warisan leluhur, tapi juga memastikan budaya lokal tetap eksis di tengah modernisasi. Ini juga menjadi ajang memperkuat semangat gotong royong dan persaudaraan warga,” jelasnya.
Pelestarian Seblang Bakungan menjadi bukti bahwa tradisi leluhur masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman. Selain menjaga identitas budaya masyarakat Osing, ritual ini juga berkontribusi terhadap pengembangan pariwisata budaya Banyuwangi yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional. [alr/suf]
Link informasi : Sumber